Ini
tentang patner saya, sebut saja Wati (demikian saya samarkan untuk kenyamanannya).
Saya mengenalnya saat kami sama-sama menempuh program magister. Di kalangan
rekan-rekan sekelas, ia dikenal sebagai anak bontot karena usianya sangat amat
muda saat menempuh program magister. Berbeda dengan rekan-rekan lainnya yang
sudah bekerja di sela-sela mengambil perkuliahan, Wati masih terhitung “anak
kemarin sore” yang lanjut dari program sarjana ke magister, tanpa satu pun pengalaman
kerja yang memadai. Ia memposisikan diri (dan diposisikan oleh rekan sekelas
lainnya, barangkali) sebagai sekretaris yang mengurusi segala macam tekek
bengek logistik perkuliahan (semacam penggandaan/fotocopy diktat, penggandaan file
materi, dll), hingga hal-hal di luar perkuliahan (semacam memesankan makan
siang, booking restaurant untuk meeting, coordinator buka bersama, dll). Ia
sangat ringan tangan, dan saya rasa kami sebagai rekan sekelasnya sangat terbantu
olehnya.
Hal
yang paling tidak bisa saya lupakan ialah, saat saya membutuhkan bantuannya. Saat
itu, ibu saya sakit dan dalam kondisi koma di sebuah rumah sakit di Solo. Saat
itu saya membutuhkan teman yang paham lokasi di Solo untuk menemani isteri
kakak saya untuk mencari kontrakan yang dapat digunakan untuk singgah keluarga
besar kami. Saat itu keluaga besar ibu saya dari Jakarta menjenguk ibu saya
berhari-hari, sehingga tidak memungkinkan jika harus bolak-balik ke rumah kami
di Sragen yang berjarak sekitar satu jam perjalanan. Wati dengan senang hati seharian
membantu mencarikan kontrakan bersama isteri kakak saya. Saya juga ingat, Wati menjenguk
ibu saya sambil membawakan sekotak buah-buahan segar yang sudah di
potong-potong. Dan saya merasa bersalah karena teledor menghilangkan kotak
makanan itu hingga tidak bisa mengembalikannya.
Kembali
lagi ke Wati. Wati lulus dan wisuda bersamaan dengan saya. Dengan IPK yang sama
pula. Perjuangan Wati dimulai disini. Selepas mendapatkan gelar M.Si di
belakang namanya, ia berjuang mendapatkan pekerjaan yang terbaik untuknya. Berbulan-bulan
ia luntang-luntung tanpa pekerjaan, yang tentu membuatnya depresi dengan beban
tanggung jawab moral maupun materiil kepada orang tuanya yang telah
mensupportnya hingga lulus S2. Saya selalu mendukungnya agar ia suatu saat bisa
menjadi dosen. Saya tahu ia memiliki potensi yang luar biasa. Ia muda, memiliki
kemampuan teoritis, serta skill berbahasa inggris yang baik. Beberapa kali
bahkan ia ikut dalam project kami, sebuah klub kecil yang kami namai “Conference
Hunter,” yaitu sebuah klub kecil yang hanya beranggotakan 3 (tiga) orang yang
memiliki minat yang sama di bidang penelitian, publikasi ilmiah dan tentu saja
konferensi alias seminar. Beberapa kali kami terlibat dalam projek penelitian
yang kami tujukan untuk sebuah seminar nasional maupun internasional. Format
yang ditawarkan dalam klub ini ialah siapa yang menjadi penulis pertama dalam
artikel ilmiah nantinya akan dirolling alias berputar, sehingga di artikel
berikutnya, penulis kedua dan ketiga akan sama-sama mendapatkan kesempatan
untuk menjadi penulis pertama. Saya ingat, dalam sebuah seminar internasional,
kami menunjuknya sebagai presenter yang akan mewakili kelompok kami untuk presentasi
dengan bahasa inggris. Awalnya, tentu ia menolak dan ingin memakai bahasa indonesia
saja, tapi kami terus mendorongnya, katakanlah ini sebagai pembelajaran
untuknya untuk presentasi menggunakan bahasa internasional. Dan, ia pun bisa
melaluinya dengan cemerlang.
Berganti
cerita, beberapa kali Wati mengikuti proses rekruitmen, baik dosen maupun non
dosen. Ia pernah mengikuti recrutmen Dosen Tetap Non PNS Universitas Sebelas
Maret, namun gagal. Selanjutnya, pernah pula mengikuti recruitment Dosen Non
PNS Universitas Tidar Magelang, namun, lagi-lagi ia gagal meskipun sudah sampai
di tahap wawancara akhir dan hampir dipastikan lolos melihat peluangnya yang
sangat terbuka. Tapi, memang benar, saat Alloh belum mengatakan “Kun” (jadilah),
maka seberat apapun ikhtiar manusia itu juga tidak akan terjadi. Lagi-lagi ia
gagal, dan diteruskan dengan serentetan kegagagalan-kegagalan di lamaran
pekerjaan lainnya.
Beberapa
bulan berikutnya, ia memutuskan untuk menerima pinangan kekasihnya, Hyang
(bukan nama sebenarnya), yang saya tahu mereka sempat “putus nyambung”. Hyang,
kekasihnya itu kemudian melamar Wati dan mereka menikahdi usia yang sama-sama
muda, hingga kemudian mengantarkan Wati untuk berbakti pada suaminya dengan
mengikuti ke kota dimana suaminya itu bekerja, di Ibu Kota Jakarta. Kami,
rekan-rekan sekelasnya, senang saat ia akhirnya melangsungkan pernikahan dengan
orang yang tentu saja ia perjuangkan. Namun, di sisi lain, tentu ada perasaan
sedih saat ia harus pergi meninggalkan kami. Di sisi lain, tentu tidak akan
mudah lagi menemuinya, dan tentu saja posisi “sekretaris” yang sudah melekat di
namanya, akan semakin sulit saat kami membutuhkan bantuannya untuk
mengkoordinasi meeting, buka bersama, atau acara-acara kebersamaan lainnya.
Pilihannya
untuk menikah muda dan berbakti menemani suaminya ke Jakarta ternyata membuka
pintu rejekinya bertubi-tubi. Ibarat membuka satu keran air, air ini
mengalirkan lagi ke sumber-sumber lainnya. Akhir tahun 2017 lalu, ia mengikuti
serangkaian proses rekrutmen CPNS di Jakarta. Disinilah Tuhan mendengar ikhtiar
dan doanya. Pada sekitar awal 2018 lalu, ia dinyatakan diterima sebagai dosen
di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi – Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN). Kampus
dan pusatnya keilmuan Administrasi Negara di Indonesia, sebuah ilmu yang
dipelajarinya di bangku kuliah dulu. Sungguh hadiah dari Alloh yang sangat spesial,
ia mendapatkan kado ini sehari bertepatan sebelum ia merayakan hari lahirnya.
Keagungan Tuhan tidak berhenti disini. Wati mendapatkan berkah lain, yaitu
beberapa hari sebelum pengumuman lolosnya dia sebagai CPNS itu, ia mendapati
dirinya positif hamil. Sungguh rejeki yang sangat luar biasa dari Sang Pemberi
Rejeki, Maha Besar Alloh. Jadi, jika dirunut dengan tanggal, beberapa hari
sebelum pengumuman rekrutmen CPNS, ia dinyatakan hamil, lalu tanggal 1 ialah pengumuman
lolosnya dia di rekrutmen CPNS, kemudian tanggal 2 ia berulang tahun. Sungguh
rejeki yang datangnya bertubi-tubi. Melimpahnya nikmat yang Alloh berikan
kepadanya ini, membuatnya semakin yakin untuk menutup aurat. Ia berhijrah
dengan menggunakan hijab yang merupakan kewajibannya sebagai muslimah. Sungguh hidayah
yang datang semakin menyempurnakan nikmat yang Alloh berikan kepadanya.
Sepenggal
kisah Wati ini mudah-mudahan dapat menjadi pengingat pada kita semua, bahwa
Alloh akan menjawab doa-doa dan ikhtiar kita di saat yang tepat. Kata orang, sesuatu
itu akan indah pada waktunya. Ibarat kita mengayuh sepeda, doa-doa dan ikhtiar
yang kita panjatkan akan mengantarkan kita pada sebuah tempat yang kita tuju,
cepat atau lambat. Kisah ini saya rasa mampu membuat kita terus percaya bahwa
hasil tidak akan pernah mengkhianati proses. Bahwa kita sebagai hamba-Nya harus
selalu berprasangka baik pada-Nya, bahwa apa yang kita usahakan tidak akan
pernah sia-sia. Bahkan, disini, Alloh memberi hadiah yang jauh lebih baik, dari
apa yang dia inginkan sebelumnya. Teruslah bermimpi, karena Alloh akan memeluk
mimpimu.
Untuk
Wati, teruslah menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Jaga terus
kepercayaan Alloh yang telah dipercayakan padamu. Berjihadlah dengan ilmu untuk
memberantas kebodohan. Pergunakanlah ilmumu untuk kemanfaatan orang lain. Selalu
ingatlah, bahwa ilmu yang bermanfaat akan mengantarkanmu dalam kebahagiaan di
akhirat kelak. Bukankah Alloh akan meninggikan derajat orang-orang yang
berilmu? Dan bukankah sebaik-baik ilmu itu ialah ilmu yang bermanfaat bagi sesama?
Dan sebagai penutup kisah ini, saya akan mengutip sebuah ayat dalam Kitab Suci
Al Quran, yang berbunyi : “fabiayyi ‘aala’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan.” (maka
nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?), sebuah ayat yang diulang-ulang
hingga 31 kali dalam Surat Ar Rahman. Sungguh Allah Maha Pemurah.
Dari
Kakakmu,
Johan
Bhimo Sukoco.
*) Gambar diambil darisini.







