Rabu, 14 Februari 2018

Tuhan itu Maha Baik



Ini tentang patner saya, sebut saja Wati (demikian saya samarkan untuk kenyamanannya). Saya mengenalnya saat kami sama-sama menempuh program magister. Di kalangan rekan-rekan sekelas, ia dikenal sebagai anak bontot karena usianya sangat amat muda saat menempuh program magister. Berbeda dengan rekan-rekan lainnya yang sudah bekerja di sela-sela mengambil perkuliahan, Wati masih terhitung “anak kemarin sore” yang lanjut dari program sarjana ke magister, tanpa satu pun pengalaman kerja yang memadai. Ia memposisikan diri (dan diposisikan oleh rekan sekelas lainnya, barangkali) sebagai sekretaris yang mengurusi segala macam tekek bengek logistik perkuliahan (semacam penggandaan/fotocopy diktat, penggandaan file materi, dll), hingga hal-hal di luar perkuliahan (semacam memesankan makan siang, booking restaurant untuk meeting, coordinator buka bersama, dll). Ia sangat ringan tangan, dan saya rasa kami sebagai rekan sekelasnya sangat terbantu olehnya.

Hal yang paling tidak bisa saya lupakan ialah, saat saya membutuhkan bantuannya. Saat itu, ibu saya sakit dan dalam kondisi koma di sebuah rumah sakit di Solo. Saat itu saya membutuhkan teman yang paham lokasi di Solo untuk menemani isteri kakak saya untuk mencari kontrakan yang dapat digunakan untuk singgah keluarga besar kami. Saat itu keluaga besar ibu saya dari Jakarta menjenguk ibu saya berhari-hari, sehingga tidak memungkinkan jika harus bolak-balik ke rumah kami di Sragen yang berjarak sekitar satu jam perjalanan. Wati dengan senang hati seharian membantu mencarikan kontrakan bersama isteri kakak saya. Saya juga ingat, Wati menjenguk ibu saya sambil membawakan sekotak buah-buahan segar yang sudah di potong-potong. Dan saya merasa bersalah karena teledor menghilangkan kotak makanan itu hingga tidak bisa mengembalikannya.

Kembali lagi ke Wati. Wati lulus dan wisuda bersamaan dengan saya. Dengan IPK yang sama pula. Perjuangan Wati dimulai disini. Selepas mendapatkan gelar M.Si di belakang namanya, ia berjuang mendapatkan pekerjaan yang terbaik untuknya. Berbulan-bulan ia luntang-luntung tanpa pekerjaan, yang tentu membuatnya depresi dengan beban tanggung jawab moral maupun materiil kepada orang tuanya yang telah mensupportnya hingga lulus S2. Saya selalu mendukungnya agar ia suatu saat bisa menjadi dosen. Saya tahu ia memiliki potensi yang luar biasa. Ia muda, memiliki kemampuan teoritis, serta skill berbahasa inggris yang baik. Beberapa kali bahkan ia ikut dalam project kami, sebuah klub kecil yang kami namai “Conference Hunter,” yaitu sebuah klub kecil yang hanya beranggotakan 3 (tiga) orang yang memiliki minat yang sama di bidang penelitian, publikasi ilmiah dan tentu saja konferensi alias seminar. Beberapa kali kami terlibat dalam projek penelitian yang kami tujukan untuk sebuah seminar nasional maupun internasional. Format yang ditawarkan dalam klub ini ialah siapa yang menjadi penulis pertama dalam artikel ilmiah nantinya akan dirolling alias berputar, sehingga di artikel berikutnya, penulis kedua dan ketiga akan sama-sama mendapatkan kesempatan untuk menjadi penulis pertama. Saya ingat, dalam sebuah seminar internasional, kami menunjuknya sebagai presenter yang akan mewakili kelompok kami untuk presentasi dengan bahasa inggris. Awalnya, tentu ia menolak dan ingin memakai bahasa indonesia saja, tapi kami terus mendorongnya, katakanlah ini sebagai pembelajaran untuknya untuk presentasi menggunakan bahasa internasional. Dan, ia pun bisa melaluinya dengan cemerlang.



Berganti cerita, beberapa kali Wati mengikuti proses rekruitmen, baik dosen maupun non dosen. Ia pernah mengikuti recrutmen Dosen Tetap Non PNS Universitas Sebelas Maret, namun gagal. Selanjutnya, pernah pula mengikuti recruitment Dosen Non PNS Universitas Tidar Magelang, namun, lagi-lagi ia gagal meskipun sudah sampai di tahap wawancara akhir dan hampir dipastikan lolos melihat peluangnya yang sangat terbuka. Tapi, memang benar, saat Alloh belum mengatakan “Kun” (jadilah), maka seberat apapun ikhtiar manusia itu juga tidak akan terjadi. Lagi-lagi ia gagal, dan diteruskan dengan serentetan kegagagalan-kegagalan di lamaran pekerjaan lainnya.

Beberapa bulan berikutnya, ia memutuskan untuk menerima pinangan kekasihnya, Hyang (bukan nama sebenarnya), yang saya tahu mereka sempat “putus nyambung”. Hyang, kekasihnya itu kemudian melamar Wati dan mereka menikahdi usia yang sama-sama muda, hingga kemudian mengantarkan Wati untuk berbakti pada suaminya dengan mengikuti ke kota dimana suaminya itu bekerja, di Ibu Kota Jakarta. Kami, rekan-rekan sekelasnya, senang saat ia akhirnya melangsungkan pernikahan dengan orang yang tentu saja ia perjuangkan. Namun, di sisi lain, tentu ada perasaan sedih saat ia harus pergi meninggalkan kami. Di sisi lain, tentu tidak akan mudah lagi menemuinya, dan tentu saja posisi “sekretaris” yang sudah melekat di namanya, akan semakin sulit saat kami membutuhkan bantuannya untuk mengkoordinasi meeting, buka bersama, atau acara-acara kebersamaan lainnya.

Pilihannya untuk menikah muda dan berbakti menemani suaminya ke Jakarta ternyata membuka pintu rejekinya bertubi-tubi. Ibarat membuka satu keran air, air ini mengalirkan lagi ke sumber-sumber lainnya. Akhir tahun 2017 lalu, ia mengikuti serangkaian proses rekrutmen CPNS di Jakarta. Disinilah Tuhan mendengar ikhtiar dan doanya. Pada sekitar awal 2018 lalu, ia dinyatakan diterima sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi – Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN). Kampus dan pusatnya keilmuan Administrasi Negara di Indonesia, sebuah ilmu yang dipelajarinya di bangku kuliah dulu. Sungguh hadiah dari Alloh yang sangat spesial, ia mendapatkan kado ini sehari bertepatan sebelum ia merayakan hari lahirnya. Keagungan Tuhan tidak berhenti disini. Wati mendapatkan berkah lain, yaitu beberapa hari sebelum pengumuman lolosnya dia sebagai CPNS itu, ia mendapati dirinya positif hamil. Sungguh rejeki yang sangat luar biasa dari Sang Pemberi Rejeki, Maha Besar Alloh. Jadi, jika dirunut dengan tanggal, beberapa hari sebelum pengumuman rekrutmen CPNS, ia dinyatakan hamil, lalu tanggal 1 ialah pengumuman lolosnya dia di rekrutmen CPNS, kemudian tanggal 2 ia berulang tahun. Sungguh rejeki yang datangnya bertubi-tubi. Melimpahnya nikmat yang Alloh berikan kepadanya ini, membuatnya semakin yakin untuk menutup aurat. Ia berhijrah dengan menggunakan hijab yang merupakan kewajibannya sebagai muslimah. Sungguh hidayah yang datang semakin menyempurnakan nikmat yang Alloh berikan kepadanya.

Sepenggal kisah Wati ini mudah-mudahan dapat menjadi pengingat pada kita semua, bahwa Alloh akan menjawab doa-doa dan ikhtiar kita di saat yang tepat. Kata orang, sesuatu itu akan indah pada waktunya. Ibarat kita mengayuh sepeda, doa-doa dan ikhtiar yang kita panjatkan akan mengantarkan kita pada sebuah tempat yang kita tuju, cepat atau lambat. Kisah ini saya rasa mampu membuat kita terus percaya bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati proses. Bahwa kita sebagai hamba-Nya harus selalu berprasangka baik pada-Nya, bahwa apa yang kita usahakan tidak akan pernah sia-sia. Bahkan, disini, Alloh memberi hadiah yang jauh lebih baik, dari apa yang dia inginkan sebelumnya. Teruslah bermimpi, karena Alloh akan memeluk mimpimu.

Untuk Wati, teruslah menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Jaga terus kepercayaan Alloh yang telah dipercayakan padamu. Berjihadlah dengan ilmu untuk memberantas kebodohan. Pergunakanlah ilmumu untuk kemanfaatan orang lain. Selalu ingatlah, bahwa ilmu yang bermanfaat akan mengantarkanmu dalam kebahagiaan di akhirat kelak. Bukankah Alloh akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu? Dan bukankah sebaik-baik ilmu itu ialah ilmu yang bermanfaat bagi sesama? Dan sebagai penutup kisah ini, saya akan mengutip sebuah ayat dalam Kitab Suci Al Quran, yang berbunyi : “fabiayyi ‘aala’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan.” (maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?), sebuah ayat yang diulang-ulang hingga 31 kali dalam Surat Ar Rahman. Sungguh Allah Maha Pemurah.


Dari Kakakmu,
Johan Bhimo Sukoco. 

*) Gambar diambil darisini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar