Sabtu, 22 Juli 2017

Konsultasi Publik Perkembangan Perundingan Indonesia – European Union (I-EU) Comperhensive Economic Patnership Agreement (CEPA) Sektor Jasa di Swiss-Bellin Saripetojo Hotel



Pada Jumat, 14 Juli 2017 lalu, saya berkesempatan menghadiri acara Konsultasi Publik Perkembangan Perundingan Indonesia – European Union (I-EU) Comperhensive Economic Patnership Agreement (CEPA) Sektor Jasa yang diadakan oleh Dinas Perdagangan Kota Surakarta bekerjasama dengan Ditjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Republik Indonesia. Acara ini diselenggarakan di Swiss-Bellin Saripetojo Hotel. 

Presentasi pertama dibuka oleh Kepala Dinas Perdagangan Kota Surakarta, dengan materi Potensi Perdagangan Jasa di Kota Surakarta dalam Era Globalisasi. Dijelaskan bahwa dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), perdagangan jasa menjadi unggulan dunia dalam perdagangan internasional dan dapat mendongkrak daya saing dari ekspor di Kota Surakarta. Potensi sector jasa ketenagakerjaan di Kota Surakarta sangat besar, dimana jumlah penduduk bekerja sebanyak 271.199 (52,95 %). Selain itu, potensi dalam bidang pendidikan, dimana Kota Surakarta termasuk pasar jasa yang berpotensi ke luar negeri, dilihat dari Angka Partisipasi Murni (APM) sebesar 69,95 dan Angka Partisipasi Kasar (APK) sebesar 100,94. Pada bidang pariwisata, pada bulan April 2017 lalu, misalnya, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) mengalami kenaikan sebesar 27,74 % dibandingkan dengan bulan April pada tahun sebelumnya (2016). Sektor kesehatan juga memiliki potensi yang besar, dilihat dari jumlah dokter spesialis sebanyak 444 orang, dokter umum sebanyak 659 orang, dan dokter gigi sebanyak 73 orang. Sektor perdagangan juga memiliki potensi unggulan, dilihat dari pertumbuhan pedagang besar pada tahun 2015, dimana naik 18,52 % dibandingkan tahun 2014. 

Presentasi kedua, oleh perwakilan dari Direktorat Perundingan Perdagangan Jasa Ditjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, lebih membahas mengenai gambaran umum perdagangan jasa dan perkembangan Perundingan I-EU CEPA Sektor Jasa. Disampaikan perkembangan perundingan ini dimana EU mengajukan proposal legal teks jasa dan investasi IEU CEPA bulan September 2016 lalu, dimana tanggal 4-5 April 2016 di Brussel, Belgia sebelumnya telah dilakukan pertemuan yang membahas Joint Scoping Paper sebagai basis untuk merundingkan IEU CEPA. Kemudian pada 21 April 2016 disepakati Scoping Paper pada Kunjungan Kerja Presiden Joko Widodo ke Eropa. Perundingan Pertama (Kick-Off Meeting) IEU CEPA dilakukan pada 20-21 September 2016 di Brussels, Belgia. Perundingan Keuda IEU CEPA dilakukan pada 24-27 Januari 2017 di Bali, dilanjutkan pertemuan intersesi IEU CEPA pada 7-8 Juni 2017 di Brussels, Belgia. Rencananya, perundingan ketiga IEU CEPA akan dilaksanakan pada 11-15 September 2017 di Brussels, Belgia. 

Dirumuskan pula poin-poin kesiapan menghadapi perundingan IEU CEPA, seperti mengetahui keuntungan dan kerugian yang didapat dari adanya perundingan IEU – CEPA; adanya peraturan dan perundang-undangan nasional/sektoral yang jelas terutama untuk lisensi, kualifikasi, dan standar teknis di bidang jasa, penyiapan sertifikasi tenaga kerja secara nasional, khusunya untuk sektor-sektor yang menjadi minat Indonesia; koordinasi dan konsultasi antar pelaku usaha/industri jasa dan stakeholders lainnya, mengkaji dan menyesuaikan aturan-aturan dan kebijakan yang ada, termasuk aturan dan kebijakan pada tingkat pemerintah daerah; dan kegiatan-kegiatan konsultasi atas kesepakatan perundingan perdagangan jasa sebagai program yang berkelanjutan. 

Soloraya, 
Johan Bhimo Sukoco 

Minggu, 16 Juli 2017

Seminar Nasional Penguatan Komunikasi Menuju Indonesia Yang Berkeadilan di Unisri Surakarta



Pada Senin, 10 Juli 2017 lalu kami dari Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, menyelenggarakan Seminar Nasional berjudul “Penguatan Komunikasi Menuju Indonesia yang Berkeadilan” Dalam kegiatan ini, saya bertugas menjadi seksi acara yang bertugas mendesain acara hingga keprotokoleran. Kegiatan ini merupakan serangkaian dies natalis Unisri ke-37. Acara dilangsungkan mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan 13.00 WIB, di Ruang Sidang Lantai 3 Unisri Surakarta. Acara juga dimeriahkan dengan hiburan lagu-lagu dari mahasiswa-mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unisri Surakarta. Seminar nasional ini dihadiri oleh segenap akademisi, praktisi, serta mahasiswa.

Ketua Panitia, Dra. Herning Suryo S, M.Si, dalam press releasenya menjelaskan bahwa seminar ini penting dalam menjawab pertanyaan apakah benar bangunan sistem komunikasi yang ada telah memiliki kekuatan dalam memperankan dirinya pada proses perubahan sosial. Penguasaan informasi dan komunikasi oleh para pemilik modal yang kuat memiliki kecenderungan kepemilikan kekuatan politik untuk mencapai keuntungan sekelompok pihak-pihak yang berkepentingan saja. Hal ini tentu dapat menjauhkan cita-cita keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam kondisi semacam ini, sangat penting peran dan kehadiran negara untuk menata, mengatur, dan mengendalikan situasi yang tidak sehat ini, sehingga aspek-aspek keadilan sosial yang dicita-citakan oleh negara dapat tercapai.

Permasalahan ini diulas secara mendalam oleh Prof. Dr. Henri Suabiakto, S.H, M.A (Staf Ahli Menkominfo dan Guru Besar Universitas Airlangga) dan Anas Syahirul (Ketua Persatuan Wartawan Indonesia/PWI Cabang Surakarta dan Praktisi Harian Joglosemar). Prof. Dr. Henri Suabiakto, S.H, M.A, menyatakan bahwa sejumlah negara memiliki kepentingan terhadap Indonesia, sehingga ada beberapa upaya untuk melemahkan pemerintahan ini, diantaranya dengan adu domba, membenturkan masyarakat dengan isu-isu SARA, isu kebhinekaan, dan lain sebagainya. Upaya ini hadir ketika sebagian besar publik aktif menggunakan komunikasi digital. Dapat dikatakan komunikasi saat ini berada dalam ruang gelap media sosial. Oleh karena itu, dirasa perlu adanya gerakan literasi melawan hoax. Anas Syahirul, sebagai pembicara kedua, menambahkan bahwa pers sebagai watchdog sekarang mulai diikat kakinya dan dijinakkan gonggonannya. Pekerja pers sibuk melayani kepentingan politil pemilik medianya yang juga terjun di dunia politik. Menanggapi permasalahan ini, dirasa perlu peningkatan profesionalitas profesi dan dirasa perlu kehadiran pemerintah dalam menegakkan regulasi.

Oleh. Johan Bhimo Sukoco
*) Foto merupakan dokumentasi pribadi.

Selasa, 04 Juli 2017

Sejarah Jarahan


Masihkah kau di sini?
Bergerak memandang kota
Yang dulu hanya berhias becak
Kini berganti dengan taksi dan asap

Masihkah kau tinggikan bahumu?
Melihat budaya yang makin tergerus
Berpindah tangan pada pengelola hiburan
Ataukah kau bahkan buta?

Adakah kau mencibir?
Membiarkan sejarah menjadi jarahan
Membiarkan budaya menjadi tak berdaya

Masihkah ada rasa rindu darimu?
Menyambut menara-menara meninggi,
Menyahut tanah terpatri semen?

Kau dan aku masih sama seperti dulu
Menggayung rupiah lebih enak
Dari sekadar,
Melihat budaya terpelihara

Sragen,
Johan Bhimo Sukoco

*) Sajak ini pernah dimuat dalam Harian Solopos, Edisi : Minggu, 12 Juli 2009 , Hal.VIII
**) Gambar diambil darisini. 

Sabtu, 01 Juli 2017

Teh Ibu



Ibu selalu menuangkan secangkir teh untukku, di setiap pagi.
Ia ingin, ragaku terelaksasi dengan aroma melati bercampur pucuk teh pilihan tangannya sendiri. Ia akan duduk di sampingku, hingga tegukan terakhir kuresapi.

Tidak ada yang merubahnya, sampai usiaku tak muda lagi.

Di kemudian hari, saat badanku telah berselimut kemeja dan dasi, masih terbekas ingatanku pada tradisi ini. Saat relasi menawarkan lima puluh miliyar demi kelancaran tendernya, aku lebih memilih mengingat teh Ibu.

Kau tahu kenapa? karena di setiap adukannya, Ibu selalu merapalkan doa agar puteranya tak menjadi tukang korupsi.

Sragen, 30 Juli 2013
Johan Bhimo Sukoco



*) Sajak ini dimuat dalam Antologi Puisi Menolak Korupsi Jilid 2b, yang diterbitkan oleh Forum Sastra Surakarta, 2013.
 **) Gambar 1 diambil darisini. 
***) Gambar 2 diambil darisini.