Kamis, 30 Juni 2016

Rindu Al Quran



“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslimin). Demikian hadist tersebut menguatkan saya dalam mendalami Al Quran melalui tahsin di sebuah lembaga belajar Al Quran. B’Quran, demikian nama lembaga tersebut. Setiap tiga kali dalam seminggu, saya rutin mendalami tahsin dan tajwid dengan bimbingan Ustadz Anas. Setiap hari Senin dan Selasa pukul 19.15 s/d 20.15 WIB, dan setiap akhir pekan di hari Sabtu pukul 16.00 s/d 17.00 WIB. Lokasinya di Jalan Jawa Nomor 77, Sragen Wetan, Sragen. 

Belajar di lembaga tersebut mengingatkan saya saat semasa kecil belajar di TPA (Tempat Pendidikan Al Quran) di masjid kampung ataupun belajar secara privat. Hal yang sama adalah saat itu saya belajar bersama teman seumuran dan disini saya juga belajar dengan teman sebaya pula. Pada suatu waktu, rekan sekantor saya mengutarakan niatannya untuk belajar membaca Al Quran, dan secara kebetulan saya juga memiliki niat untuk memperdalam bacaan saya maupun tajwidnya. Sepertinya niat baik ini memang mendapat jalannya sendiri, hingga kami menemukan lembaga belajar tersebut. Selama ini saya merasa bacaan saya belum sempurna secara makhrorijul hurufnya. Di sisi lain, pemahaman tajwid saya juga minus. Belakangan, saya merasa sangat beruntung belajar di majelis ini, karena semakin lama saya belajar semakin membukakan mata saya bahwa selama ini saya seperti katak dalam tempurung yang merasa sudah puas dengan kemampuan membaca Al Quran. Pada kenyataannya masih banyak ilmu tadjwid yang belum saya pahami dengan baik. Masih banyak pula makhrorijul huruf yang belum sempurna. Yang di kemudian hari, saya menyadari bahwa hal sekecil ini tentu dapat mengubah arti suatu ayat. 

Sebenarnya, apakah tajdwid itu? Menurut Masruri Yahya MS dan Drs M. Ashim Yahya (2010 : 4), Ilmu tajwid secara bahasa adalah tahsin (memperbaiki). Sementara itu, menurut istilahnya adalah ilmu yang mempelajari cara pengucapan huruf-huruf Al Quran yang meliputi sifat, makhraj (tempat keluarnya huruf) dan ahkamul huruf (ketentuan bunyi huruf). Beberapa ayat dan hadist yang hadir mengingatkanku untuk terus, terus, dan terus mempelajari Al Quran, antara lain Q.S. Al -Muzzammil : 4, yang berbunyi: “……dan bacalah Al Quran dengan tartil.” Kemudian, tertuang dalam Q.S. Al Furqon : 32, yang berbunyi “Berkatalah orang-orang yang kafir.’Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” Adapula Hadist Riwayat Tirmidzi yang menuliskan “Akan dikatakan kepada pembaca dan penghafal Al Quran, ‘Bacalah (hafalanmu), naiklah (ke atas surga) dan bacalah dengan tartil (baik) sebagaimana dahulu kamu pernah membacanya di dunia. Karena kedudukanmu di surga berada pada akhir ayat yang kamu baca.”

Demikian ayat-ayat dan hadist yang menguatkan saya untuk istiqomah mempelajari Al Quran. Kedepannya, saya ingin kelak justru saya sendirilah orang pertama yang mengajarkan anak saya bagaimana membaca Al Quran dengan baik dan benar. Saya ingin menjadikan hal ini sebagai amal jariyah yang tiada putus, dimulai dari keluarga terkecil. Semoga waktu itu akan datang. 

Pembelajaran pun dimulai. Kami masuk di kelas dewasa, dimana awalnya di kelas kami terdiri dari lima santri. Seiring berjalannya waktu, hanya tinggal tiga santri saja yang mampu bertahan. Hal ini bisa dimaklumi, karena tanpa niat yang kuat maka tingkat kehadiran akan semakin lama semakin menurun. Bersyukur, saya bersama dua orang santri lainnya dapat bertahan. Kami belajar dari awal pengenalan huruf hijaiyah, bagaimana makhrorijul hurufnya, sampai dengan pelajaran terkait tajwid. Kami memperdalam pemahaman mengenai Ikhfa, Idhom Bi Ghunnah, Idhom Bila Ghunnah, Iqlab, dan kajian-kajian tajwid lainnya. Beberapa minggu terakhir ini pembelajaran untuk semester ini berakhir, dan akan dilanjutkan di semester berikutnya dengan tingkatan yang lebih tinggi. Serasa rindu untuk kembali mempelajari seluk beluk bacaan kitab suci Al Quran. Semoga kami masih diberi kesempatan untuk kembali lagi hadir dalam majelis ilmu ini. Amin.

Johan Bhimo Sukoco
*) Gambar diambil darisini.

Minggu, 12 Juni 2016

Rayuan Sang Juru Ulem



“Pring ampel ana wewene, ndepel-ndepel ana gawene. Kulanuwun, perlu kula mriki, sepindah badhe silaturahmi. Kaping kalih ngaturi panjenengan tilik manten wonten griyane Bu Panggih mbenjang Selasa Kliwon...”[1]

Kali ini Yu Sumi tak bergeming. Dengan badan gemetar, disambanginya rumah Jeng Pari. Rumah mewah. Kontras dengan pemandangan sekitar. Jeng Pari hidup dari warisan suaminya yang mati dua tahun lalu. Predikat janda kembang pun disandangnya. Wanita muda ini terkenal ramah. Namun keramahan itu justru menimbulkan banyak gunjingan. Siapa lagi kalau bukan Ibu-Ibu penggosip. Jeng Pari sering dituding main serong dengan suami mereka. Belum lagi dengan ucapan kasar Bu Panggih. Pernah Jeng Pari dituduh bersekutu melalui pesugihan. Dugaan ini muncul seiring panen besar-besaran dari berhektar sawah miliknya. Entah darimana kabar itu berhembus. Darisitulah sebutan Pari disematkan pada namanya. Pari, diambil dari bahasa Jawa yang berarti Padi. Sebenarnya nama aslinya: Lilis Suganda. Namun sejak insident itu warga lebih akrab memanggilnya Jeng Pari. Belakangan diketahui Bu Panggihlah yang berkoar-koar.
“Jeng, datang ya,” pinta Yu Sumi kedua kalinya.
Tanpa menjawab, mata Jeng Pari malah berkaca-kaca. Bukan sedih lantaran Pras akhirnya menikahi Retno, namun kabar itu yang membuatnya tercekat. Andaikata undangan serupa datang dari Bu Dewi atau Bu Marni, tentu lain cerita. Keduanya sangat akrab dengan Jeng Pari. Tapi, kali ini Bu Panggih?
“Gimana, Jeng?”
“Ah, Yu. Belum tahu.”
“Saya ngerti sampeyan[2] tentu sakit hati. Tapi mbokya kali ini nyoba rukun,” ucap perempuan yang tak tamat SD ini hati-hati.
Keduanya saling bertatapan. Sesama perempuan, Yu Sumi juga merasakan bagaimana perasaan Jeng Pari. Dia ingat betul saat kejadian di warung Mak Darmi dua tahun silam. Sehari setelah pemakaman suaminya, Jeng Pari harus melahap omongan pedas Bu Panggih.
“Halah, paling Pak Pardi itu disantet isterinya,” ucap Bu Panggih sinis ketika itu, tanpa menggubris keberadaan Jeng Pari yang sibuk menawar harga lombok.
“Hus! ati-ati Bu, kalau ngomong,” sela Yu Sumi menimpali.
Masih dengan mulut manyun, Bu Panggih malah asyik nyerocos lagi. Diliriknya Jeng Pari yang menunduk malu. Dasar wanita ini sabar, tak digubrisnya ucapan ngaco itu. Tentu bahagianya Pak Pardi sewaktu hidup, memiliki isteri yang legowo sepertinya.
 “Namanya juga perek[3], Bu. Lihat saja, nggak sampai dua bulan pasti sudah cari laki lagi.”
“Apa iya, tho?”
“Iya, Bu. Benar itu.”
Mak Darmi hanya mengelengkan kepalanya jengah. Ada rasa prihatin melihat keadaan Jeng Pari. Namun dia tak mampu berbuat apa-apa. Mak Darmi sudah biasa mendengar Bu Panggih berbuat ulah.
-----------------------
“Gimana, Jeng Par?,” tanya Sang juru ulem mengagetkan lamunan.
Yang ditanya masih menunduk. Berusaha mengembalikan ingatannya. Namun malah tak mampu membendung lagi tangisnya. Yu Sumi merangkulnya.
“Sabar ya, Bu.”
Ditinggalnya Jeng Pari sendirian setelah pamit. Baginya tugas ini belum usai. Pekerjaan yang diberikan padanya ini cukup berat. Hampir tujuh tahun, baru kali ini yang membuatnya sedikit berputar otak. Sebagai penyeranta undangan hajatan lesan, dia harus pintar-pintar merayu hati calon tamu.
Warga desa Ngemplak tempatnya tinggal, memang masih kukuh memegang tatanan budaya. Meskipun teknologi komunikasi makin menggeliat, namun profesi juru ulem seperti yang ditekuni Yu Sumi ini masih dapat bertahan. Penduduk masih menganggap penyampaian undangan secara lesan lebih sopan. Calon tamu merasa dihargai daripada sekedar kertas undangan. Meski pada ujungnya, undangan tertulis pun juga dibagikan.
Bukan persoalan sulit bagi Yu Sumi dalam menyampaikan undangan lesan. Namun seringkali ada salah presepsi yang ditangkap orang yang diundang. Seperti pada masalah Jeng Pari. Kali ini agak rumit. Bu Panggih mengutusnya sebagai juru ulem pada pernikahan anaknya. Sementara dia tidak sekalipun menahu tujuan Bu Panggih mengundang Jeng Pari. Apakah sekedar mencaci saat acara nikahan nanti, atau benar-benar tulus menjalin kerukunan. Nampaknya, tugas kali ini cukup menguras pikiran.
***
“Pripun, Yu?”
“Yah, benar kata Bu Dewi.”
“Betul, kan. Kasihan Jeng Pari.”
Yu Sumi menghela napas. Perkiraan Bu Dewi ada benarnya. Itu pula yang sejak awal ditakutinya. Sangat berat bagi Yu Sumi mengutarakan niatan itu pada Jeng Pari. Meski telah disampaikannya undangan lesan itu secara hati-hati, tapi toh akhirnya janda itu menangis juga.
“Lha selanjutnya gimana, Yu?,” sahut Bu Dewi ikut sedih.
“Ya, nyoba lagi.”
Kalau ditilik ulang, sebenarnya tugas seorang juru ulem berakhir disini. Setelah mengutarakan maksud kedatangannya, tugas selesai. Mengenai bagaimana keputusan akhir orang yang diundang, bukan menjadi urusan Sang juru ulem. Tapi jiwa lembut perempuan beranak tiga ini berkata lain. Dia beranggapan tugasnya belum sepenuhnya tuntas.
“Akan saya coba lagi, Bu.”
“Saya doakan, Yu. Semoga kali ini sampeyan[4] sukses.”
***
“Yu, saya ini bener-bener punya niatan baik.”
Bu Panggih tak meneruskan ucapannya. Dilihatnya mata Yu Sumi yang penuh harap mendengarnya bicara lagi.
“Bener, Yu,” sambungnya pelan.
Bukan bermaksud meragukan niat baik Bu Panggih mengundang Jeng Pari. Namun hal ini dirasa perlu ditanyakan untuk memantapkannya menyambangi lagi rumah Jeng Pari ba’da Ashar nanti.
“Saya bukan menuduh lho, Bu.”
“Iya, saya tahu. Tentu bukan cuma panjenengan[5] yang ragu. Saya juga dengar sewaktu Mak Darmi nyindir saat arisan kemarin. Malahan Bu Sar sudah wanti-wanti lebih dulu.”
Yu Sumi diam menyimak pengakuan tuannya itu. Bukan diam biasa, melainkan ikut berpikir bagaimana cara merukunkan dua tetangga ini. Nampak mimiknya berubah cerah. Sepertinya ada sedikit pencerahan di otaknya.
“Terus, Bu?”
“Saya menyesal. Sudah lama saya ingin minta maaf pada Jeng Lilis. Sejak bantuan darinya itu, saya malu. Saya malu, Yu.”
Bu panggih mulai bercerita. Diawali dari alasannya membenci Jeng Pari. Gagal panen yang beruntun empat kali, membuatnya iri pada rejeki tetangganya itu. Pantas saja Bu Panggih menuduh Si janda menggunakan cara kotor. Pasalnya, sawah mereka saling berdekatan. Berbeda nasib, panen padi di lahan Jeng Pari malah melimpah ruah.
“Bantuan?,” tanya Yu Sumi pelan.
“Oh, itu..,” sahut Bu Panggih tertegun. Mulai ditatanya nafas yang terasa sesak di dada.
Ternyata dua bulan lalu, Jeng Pari mendermakan sebagian lahannya untuk ditanami padi Pak Panggih. Beliau yang memintanya. Pras, anak sulungnya, terus menerus mendesak Bapaknya ini untuk menyiapkan uang lebih. Pras terlanjur menghamili Retno duluan. Ibu Retno meminta agar Pras segera menikahi anaknya itu, sebelum perutnya membuncit. Apa mau dikata, ekonomi baru kritis. Pak Panggih baru saja dipecat dari pabrik tempatnya bekerja. Dengan malu, keluarga ini memutuskan meminta bantuan Jeng Pari.
“Bahkan saya dipinjami uang banyak, Yu. Saya malu. Saya menyesal sudah memusuhi Jeng Lilis.”
Yu Sumi mengangguk pelan. Agak aneh mendengar nama asli Jeng Pari disebut. Tersirat senyuman simpul di bibir polosnya. Terlebih saat mendengar niat tulus Bu Panggih yang ingin meminta maaf pada rivalnya itu.
“Mari, Bu. Saya antar ke rumah Jeng Pari.”
***
Selasa Kliwon. Pada bulan besar atau Dzulhijah seperti sekarang ini, bertebaran pesta kawinan di mana-mana. Penduduk menganggap bulan ini bulan dibukanya rejeki. Pantas saja, Bu Panggih juga memilih hari ini untuk menikahkan Pras. Dengan sanggul bersunting kantil, Bu Panggih terlihat sumringah. Begitu pula dengan Pak Panggih yang mengenakan beskap jawa lengkap.
Gendhing Pangkur mulai meraung. Acara di buka dengan tari Gambyong yang dibawakan Mbak Ratri. Dengan gemulai, dikipaskannya selendang berbahan sifon itu. Tarian yang sakral. Nilai estetisnya menggambarkan kelincahan, keluwesan, dan kelembutan wanita. Seperti kelembutan Jeng Pari menerima tudingan miring, keluwesan Bu Panggih meminta maaf, serta kelincahan Yu Sumi dalam melobi pelanggan.
“Wah, selamat ya, Bu,” ucap Jeng Pari merangkul Bu Panggih seraya melirik Pras
di pelaminan.
Dari kejauhan nampak Yu Sumi melihat pemandangan ini. Matanya teduh. Tanpa henti ucap syukur mengalir di bibirnya. Perlahan senyuman itu pun mulai mengambang.
“Jeng Lilis,” desisnya pelan.
***



[1] Kata-kata yang biasa diawali seorang juru ulem dalam menjalankan tugasnya
[2] Sampeyan: Kamu
[3] Perek: Pekerja Seks Komersial
[4] Lihat not.2
[5] Panjenengan: Kamu

Johan Bhimo Sukoco
*) Cerpen ini dimuat dalam Buku Antologi Kumpulan Cerpen dan Puisi Balada Sang Penghibur, yang diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) VISI FISIP UNS, 2009. 
*) Gambar diambil darisini. 

Minggu, 05 Juni 2016

Pengembangan Budaya Membaca



Beberapa istilah yang berkaitan dengan artikel ini yaitu: minat baca, kebiasaan baca, dan budaya baca. Menurut Sutarno NS (2006:26), minat baca diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi dari seseorang kepada suatu sumber bacaan tertentu. Budaya baca adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan seseorang untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan, sedangkan di dalam pengertian budaya baca ini mencakup kebiasaan dan proses dalam waktu yang lama di dalam kehidupan seseorang untuk selalu menggunakan sebagian waktunya untuk membaca.  

Faktor yang menjadi pendorong tumbuhnya minat baca ialah ketertarikan, kegemaran, dan hobi membaca, sedangkan pendorong tumbuhnya kebiasaan membaca adalah kemauan dan kemampuan membaca. Berseminya budaya baca adalah kebiasaan membaca, dimana hal ini dapat terpelihara dengan tersedianya bahan bacaan yang baik, menarik, memadai, baik dari jenis, jumlah, maupun mutunya.

Primanto Nugroho (2000) menyatakan bahwa duduk perkara minat baca rendah bukan pada soal kalkulasi tinggi atau rendahnya. Minat baca lebih merupakan keadaan yang bervariasi sesuai dengan lokalitas di setiap elemen penyusun gerak masyarakat. Kepekaan dan variasi kebutuhan informasi di masyarakat itulah yang akan banyak menentukan keberhasilan suatu bacaan.

PDAM Tirto Negoro yang merupakan bagian dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Sragen, ikut serta mengembangkan minat baca, kebiasaan baca, dan budaya baca pada karyawan. Hal ini terbukti dari penyediaan buku-buku motivasi kerja dari pihak manajemen pada karyawan. Adapun buku-buku tersebut bertema besar perubahan yang merupakan karangan Rhenal Khasali, PhD. Buku-buku tersebut, antara lain: “Change!”, “Myelin”, “Re-Code”, “Cracking Zone”, dan “Powerhouse”. Sebagai tindak lanjut dari pemberian buku ini kepada karyawan, maka dilanjutkan dengan follow up terkait pemahaman mereka perihal buku yang sudah dipelajari.

Beberapa kegiatan dalam rangka follow up ini misalnya diskusi buku secara kelompok. Selain itu, sebagai langkah jauh dari tindak lanjut ini dilakukan pengkajian secara mendalam dengan penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan dalam peringatan HUT PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen ke-23 lalu. Selain melalui penyediaan buku-buku motivasi kinerja, manajemen juga menyediakan akses media massa secara berlangganan dan akses internet dengan kecepatan tinggi. Dengan demikian, diharapkan minat baca, kebiasaan baca, dan budaya baca di PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen dapat meningkat menuju karyawan dengan akses informasi yang memadai. 

Johan Bhimo Sukoco
*) Gambar diambil darisini.

Pendidikan Sebagai Nilai Tambah Karyawan



Pendidikan merupakan hasil peradaban bangsa yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang (Siti Meichati, 1980:6). Fungsi pendidikan secara sosiologik ialah proses penerus nilai-nilai dari generasi dahulu ke generasi sekarang, atau disebut sosialisasi. Dalam hal ini, pendidikan mengemban fungsi sebagai agen perubahan sosial (agen of change) di masyarakat. Menurut Agus Salim (2007:106), gagasan pendidikan sebagai proses sosiologi bersumber dari konsep utama pendidikan sosiolog besar Max Weber. Sosialisasi merupakan proses belajar dari individu untuk menjadi anggota masyarakat.

H.M. Zainuddin (2008:24), menambahkan, proses sosialisasi itu tidak selalu berjalan dengan mulus, karena sering terjadi pertentangan kepentingan dari berbagai pihak mengenai isi pendidikan, alokasi status dan pemerataan kesempatan pendidikan, peranan dan fungsi lembaga pendidikan dalam masyarakat. Perubahan dalam sistem pemerintahan juga akan mempengaruhi pemosisian pendidikan dalam kehidupan masyarakat dan tentunya sistem penyelenggaraan pendidikan.Pengembangan pendidikan di Indonesia telah diamanahkan dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat 1 dan 2.  Pasal 31 ayat 1 disebutkan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Sementara Pasal 31 ayat 2, dikatakan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur undang-undang. Secara lebih implisit, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah mengatur lebih jauh  terkait kewajiban pemerintah pusat dan daerah dalam memberikan pelayanan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan warga negara,

Selama ini sektor pendidikan terkesan cenderung terpisah dengan sektor ketenagakerjaan. Dapat dikatakan ada semacam sekat yang memisahkan dua sektor tersebut. Sektor pendidikan berdiri dalam rangka penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), sementara sektor ketenagakerjaan cenderung lebih mempersoalkan pemenuhan tenaga kerja. Padahal, apabila dikaji, antara sektor pendidikan dan ketenagakerjaan ini memiliki link satu sama lain. Berbicara terkait pendidikan, bukan hanya berfokus pada penyiapan kualitas SDM untuk memasuki dunia kerja. Lebih dari itu, pendidikan juga dibutuhkan dalam rangka penguatan kualitas SDM selama bekerja. Beranjak dari hal ini, maka banyak instansi pemerintah ataupun perusahaan swasta yang memberikan peluang bagi karyawannya untuk melanjutkan pendidikan lebih lanjut. Dewasa ini, banyak karyawan yang memutuskan untuk bekerja sambil kuliah lanjut, baik dengan menggunakan biaya sendiri ataupun beasiswa dari perusahaan atau di luar perusahaan.

PDAM Tirto Negoro, sebagai salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Sragen, sangat membuka kesempatan bagi karyawan untuk menempuh atau melanjutkan pendidikan. Tidak sedikit karyawan yang menempuh pendidikan lanjut, semisal S1/S2 di sela-sela kesibukan pekerjaan. Diharapkan dengan menempuh pendidikan lanjut ini, kualitas SDM di perusahaan tersebut dapat meningkat. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan dapat diimplementasikan di pekerjaan mereka masing-masing. Hal ini akan menjadi nilai tambah bagi karyawan dan bahkan bagi perusahaan tersebut.

Selain membuka kesempatan bagi karyawan untuk menempuh pendidikan lanjut, PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen juga memberikan pendidikan non formal melalui pendidikan dan pelatihan (diklat).  Ringkasan Capaian 2 (dua) tahun Direksi PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen, pada Bidang Umum, menunjukkan bahwa Divisi SDM telah konsekuen menyelenggarakan diklat/pelatihan sebanyak 15 kali yang termuat dalam Program Kerja Non-teknik. Selain itu, di luar pendidikan formal dan non formal, manajemen PDAM Tirto Negoro juga mengembangkan pendidikan informal pada karyawan, yaitu dengan memberikan karyawan buku-buku motivasi dalam rangka perubahan budaya organisasi. Buku-buku bertema besar perubahan karangan Rhenald Khasali, P.hD ini, antara lain: “Change!”, “Myelin”, “Re-Code”, “Cracking Zone”, dan “Powerhouse”. Selanjutnya, buku-buku tersebut pun dilakukan pengkajian secara mendalam dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan dalam peringatan HUT PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen ke-23 lalu. Melalui buku-buku tersebut diharapkan dapat memberi nilai tambah pada karyawan. 

Johan Bhimo Sukoco
*) Gambar diambil darisini