“Pring ampel ana wewene, ndepel-ndepel
ana gawene. Kulanuwun, perlu kula mriki, sepindah badhe silaturahmi. Kaping
kalih ngaturi panjenengan tilik manten wonten griyane Bu Panggih mbenjang
Selasa Kliwon...”[1]
Kali ini Yu Sumi tak bergeming. Dengan badan gemetar,
disambanginya rumah Jeng Pari. Rumah mewah. Kontras dengan pemandangan sekitar.
Jeng Pari hidup dari warisan suaminya yang mati dua tahun lalu. Predikat janda
kembang pun disandangnya. Wanita muda ini terkenal ramah. Namun keramahan itu
justru menimbulkan banyak gunjingan. Siapa lagi kalau bukan Ibu-Ibu penggosip. Jeng
Pari sering dituding main serong dengan suami mereka. Belum lagi dengan ucapan
kasar Bu Panggih. Pernah Jeng Pari dituduh bersekutu melalui pesugihan. Dugaan
ini muncul seiring panen besar-besaran dari berhektar sawah miliknya. Entah
darimana kabar itu berhembus. Darisitulah sebutan Pari disematkan pada namanya.
Pari, diambil dari bahasa Jawa yang berarti Padi. Sebenarnya nama aslinya: Lilis
Suganda. Namun sejak insident itu
warga lebih akrab memanggilnya Jeng Pari. Belakangan diketahui Bu Panggihlah
yang berkoar-koar.
“Jeng, datang ya,” pinta Yu Sumi kedua kalinya.
Tanpa menjawab, mata Jeng Pari malah berkaca-kaca.
Bukan sedih lantaran Pras akhirnya menikahi Retno, namun kabar itu yang
membuatnya tercekat. Andaikata undangan serupa datang dari Bu Dewi atau Bu
Marni, tentu lain cerita. Keduanya sangat akrab dengan Jeng Pari. Tapi, kali
ini Bu Panggih?
“Gimana, Jeng?”
“Ah, Yu. Belum tahu.”
“Saya ngerti sampeyan[2] tentu sakit hati. Tapi
mbokya kali ini nyoba rukun,” ucap perempuan yang tak tamat SD ini hati-hati.
Keduanya saling bertatapan. Sesama perempuan, Yu
Sumi juga merasakan bagaimana perasaan Jeng Pari. Dia ingat betul saat kejadian
di warung Mak Darmi dua tahun silam. Sehari setelah pemakaman suaminya, Jeng
Pari harus melahap omongan pedas Bu Panggih.
“Halah, paling Pak Pardi itu disantet isterinya,” ucap
Bu Panggih sinis ketika itu, tanpa menggubris keberadaan Jeng Pari yang sibuk
menawar harga lombok.
“Hus! ati-ati
Bu, kalau ngomong,” sela Yu Sumi menimpali.
Masih dengan mulut manyun, Bu Panggih malah asyik
nyerocos lagi. Diliriknya Jeng Pari yang menunduk malu. Dasar wanita ini sabar,
tak digubrisnya ucapan ngaco itu. Tentu bahagianya Pak Pardi sewaktu hidup, memiliki
isteri yang legowo sepertinya.
“Namanya
juga perek[3], Bu. Lihat saja, nggak sampai dua bulan pasti sudah cari
laki lagi.”
“Apa iya, tho?”
“Iya, Bu. Benar itu.”
Mak Darmi hanya mengelengkan kepalanya jengah. Ada
rasa prihatin melihat keadaan Jeng Pari. Namun dia tak mampu berbuat apa-apa. Mak
Darmi sudah biasa mendengar Bu Panggih berbuat ulah.
-----------------------
“Gimana, Jeng Par?,” tanya Sang juru ulem
mengagetkan lamunan.
Yang ditanya masih menunduk. Berusaha mengembalikan
ingatannya. Namun malah tak mampu membendung lagi tangisnya. Yu Sumi
merangkulnya.
“Sabar ya, Bu.”
Ditinggalnya Jeng Pari sendirian setelah pamit. Baginya
tugas ini belum usai. Pekerjaan yang diberikan padanya ini cukup berat. Hampir
tujuh tahun, baru kali ini yang membuatnya sedikit berputar otak. Sebagai
penyeranta undangan hajatan lesan, dia harus pintar-pintar merayu hati calon
tamu.
Warga desa Ngemplak tempatnya tinggal, memang
masih kukuh memegang tatanan budaya. Meskipun teknologi komunikasi makin
menggeliat, namun profesi juru ulem seperti yang ditekuni Yu Sumi ini masih
dapat bertahan. Penduduk masih menganggap penyampaian undangan secara lesan
lebih sopan. Calon tamu merasa dihargai daripada sekedar kertas undangan. Meski
pada ujungnya, undangan tertulis pun juga dibagikan.
Bukan persoalan sulit bagi Yu Sumi dalam
menyampaikan undangan lesan. Namun seringkali ada salah presepsi yang ditangkap
orang yang diundang. Seperti pada masalah Jeng Pari. Kali ini agak rumit. Bu
Panggih mengutusnya sebagai juru ulem pada pernikahan anaknya. Sementara dia
tidak sekalipun menahu tujuan Bu Panggih mengundang Jeng Pari. Apakah sekedar
mencaci saat acara nikahan nanti, atau benar-benar tulus menjalin kerukunan. Nampaknya,
tugas kali ini cukup menguras pikiran.
***
“Pripun, Yu?”
“Yah, benar kata Bu Dewi.”
“Betul, kan. Kasihan Jeng Pari.”
Yu Sumi menghela napas. Perkiraan Bu Dewi ada
benarnya. Itu pula yang sejak awal ditakutinya. Sangat berat bagi Yu Sumi mengutarakan
niatan itu pada Jeng Pari. Meski telah disampaikannya undangan lesan itu secara
hati-hati, tapi toh akhirnya janda itu menangis juga.
“Lha selanjutnya gimana, Yu?,” sahut Bu Dewi ikut
sedih.
“Ya, nyoba lagi.”
Kalau ditilik ulang, sebenarnya tugas seorang juru
ulem berakhir disini. Setelah mengutarakan maksud kedatangannya, tugas selesai.
Mengenai bagaimana keputusan akhir orang yang diundang, bukan menjadi urusan
Sang juru ulem. Tapi jiwa lembut perempuan beranak tiga ini berkata lain. Dia
beranggapan tugasnya belum sepenuhnya tuntas.
“Akan saya coba lagi, Bu.”
“Saya doakan, Yu. Semoga kali ini sampeyan[4] sukses.”
***
“Yu, saya ini bener-bener
punya niatan baik.”
Bu Panggih tak meneruskan ucapannya. Dilihatnya
mata Yu Sumi yang penuh harap mendengarnya bicara lagi.
“Bener, Yu,” sambungnya pelan.
Bukan bermaksud meragukan niat baik Bu Panggih mengundang
Jeng Pari. Namun hal ini dirasa perlu ditanyakan untuk memantapkannya
menyambangi lagi rumah Jeng Pari ba’da Ashar nanti.
“Saya bukan menuduh lho, Bu.”
“Iya, saya tahu. Tentu bukan cuma panjenengan[5] yang ragu. Saya
juga dengar sewaktu Mak Darmi nyindir saat arisan kemarin. Malahan Bu Sar sudah
wanti-wanti lebih dulu.”
Yu Sumi diam menyimak pengakuan tuannya itu. Bukan
diam biasa, melainkan ikut berpikir bagaimana cara merukunkan dua tetangga ini.
Nampak mimiknya berubah cerah. Sepertinya ada sedikit pencerahan di otaknya.
“Terus, Bu?”
“Saya menyesal. Sudah lama saya ingin minta maaf
pada Jeng Lilis. Sejak bantuan darinya itu, saya malu. Saya malu, Yu.”
Bu panggih mulai bercerita. Diawali dari alasannya
membenci Jeng Pari. Gagal panen yang beruntun empat kali, membuatnya iri pada
rejeki tetangganya itu. Pantas saja Bu Panggih menuduh Si janda menggunakan
cara kotor. Pasalnya, sawah mereka saling berdekatan. Berbeda nasib, panen padi
di lahan Jeng Pari malah melimpah ruah.
“Bantuan?,” tanya Yu Sumi pelan.
“Oh, itu..,” sahut Bu Panggih tertegun. Mulai
ditatanya nafas yang terasa sesak di dada.
Ternyata dua bulan lalu, Jeng Pari mendermakan
sebagian lahannya untuk ditanami padi Pak Panggih. Beliau yang memintanya. Pras,
anak sulungnya, terus menerus mendesak Bapaknya ini untuk menyiapkan uang
lebih. Pras terlanjur menghamili Retno duluan. Ibu Retno meminta agar Pras
segera menikahi anaknya itu, sebelum perutnya membuncit. Apa mau dikata, ekonomi
baru kritis. Pak Panggih baru saja dipecat dari pabrik tempatnya bekerja. Dengan
malu, keluarga ini memutuskan meminta bantuan Jeng Pari.
“Bahkan saya dipinjami uang banyak, Yu. Saya malu.
Saya menyesal sudah memusuhi Jeng Lilis.”
Yu Sumi mengangguk pelan. Agak aneh mendengar nama
asli Jeng Pari disebut. Tersirat senyuman simpul di bibir polosnya. Terlebih
saat mendengar niat tulus Bu Panggih yang ingin meminta maaf pada rivalnya itu.
“Mari, Bu. Saya antar ke rumah Jeng Pari.”
***
Selasa Kliwon. Pada bulan besar atau Dzulhijah
seperti sekarang ini, bertebaran pesta kawinan di mana-mana. Penduduk
menganggap bulan ini bulan dibukanya rejeki. Pantas saja, Bu Panggih juga
memilih hari ini untuk menikahkan Pras. Dengan sanggul bersunting kantil, Bu
Panggih terlihat sumringah. Begitu pula dengan Pak Panggih yang mengenakan
beskap jawa lengkap.
Gendhing Pangkur mulai meraung. Acara di buka
dengan tari Gambyong yang dibawakan Mbak Ratri. Dengan gemulai, dikipaskannya
selendang berbahan sifon itu. Tarian yang sakral. Nilai estetisnya menggambarkan
kelincahan, keluwesan, dan kelembutan wanita. Seperti kelembutan Jeng Pari
menerima tudingan miring, keluwesan Bu Panggih meminta maaf, serta kelincahan
Yu Sumi dalam melobi pelanggan.
“Wah, selamat ya, Bu,” ucap Jeng Pari merangkul Bu
Panggih seraya melirik Pras
di pelaminan.
Dari kejauhan nampak Yu Sumi melihat pemandangan
ini. Matanya teduh. Tanpa henti ucap syukur mengalir di bibirnya. Perlahan
senyuman itu pun mulai mengambang.
“Jeng Lilis,” desisnya pelan.
***
[1] Kata-kata yang biasa
diawali seorang juru ulem dalam menjalankan tugasnya
[3] Perek: Pekerja Seks
Komersial
Johan Bhimo Sukoco
*) Cerpen ini dimuat
dalam Buku Antologi Kumpulan Cerpen dan Puisi Balada Sang Penghibur, yang
diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) VISI FISIP UNS, 2009.
*) Gambar diambil darisini.