Minggu, 05 Juni 2016

Pendidikan Sebagai Nilai Tambah Karyawan



Pendidikan merupakan hasil peradaban bangsa yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang (Siti Meichati, 1980:6). Fungsi pendidikan secara sosiologik ialah proses penerus nilai-nilai dari generasi dahulu ke generasi sekarang, atau disebut sosialisasi. Dalam hal ini, pendidikan mengemban fungsi sebagai agen perubahan sosial (agen of change) di masyarakat. Menurut Agus Salim (2007:106), gagasan pendidikan sebagai proses sosiologi bersumber dari konsep utama pendidikan sosiolog besar Max Weber. Sosialisasi merupakan proses belajar dari individu untuk menjadi anggota masyarakat.

H.M. Zainuddin (2008:24), menambahkan, proses sosialisasi itu tidak selalu berjalan dengan mulus, karena sering terjadi pertentangan kepentingan dari berbagai pihak mengenai isi pendidikan, alokasi status dan pemerataan kesempatan pendidikan, peranan dan fungsi lembaga pendidikan dalam masyarakat. Perubahan dalam sistem pemerintahan juga akan mempengaruhi pemosisian pendidikan dalam kehidupan masyarakat dan tentunya sistem penyelenggaraan pendidikan.Pengembangan pendidikan di Indonesia telah diamanahkan dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat 1 dan 2.  Pasal 31 ayat 1 disebutkan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Sementara Pasal 31 ayat 2, dikatakan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur undang-undang. Secara lebih implisit, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah mengatur lebih jauh  terkait kewajiban pemerintah pusat dan daerah dalam memberikan pelayanan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan warga negara,

Selama ini sektor pendidikan terkesan cenderung terpisah dengan sektor ketenagakerjaan. Dapat dikatakan ada semacam sekat yang memisahkan dua sektor tersebut. Sektor pendidikan berdiri dalam rangka penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), sementara sektor ketenagakerjaan cenderung lebih mempersoalkan pemenuhan tenaga kerja. Padahal, apabila dikaji, antara sektor pendidikan dan ketenagakerjaan ini memiliki link satu sama lain. Berbicara terkait pendidikan, bukan hanya berfokus pada penyiapan kualitas SDM untuk memasuki dunia kerja. Lebih dari itu, pendidikan juga dibutuhkan dalam rangka penguatan kualitas SDM selama bekerja. Beranjak dari hal ini, maka banyak instansi pemerintah ataupun perusahaan swasta yang memberikan peluang bagi karyawannya untuk melanjutkan pendidikan lebih lanjut. Dewasa ini, banyak karyawan yang memutuskan untuk bekerja sambil kuliah lanjut, baik dengan menggunakan biaya sendiri ataupun beasiswa dari perusahaan atau di luar perusahaan.

PDAM Tirto Negoro, sebagai salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Sragen, sangat membuka kesempatan bagi karyawan untuk menempuh atau melanjutkan pendidikan. Tidak sedikit karyawan yang menempuh pendidikan lanjut, semisal S1/S2 di sela-sela kesibukan pekerjaan. Diharapkan dengan menempuh pendidikan lanjut ini, kualitas SDM di perusahaan tersebut dapat meningkat. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan dapat diimplementasikan di pekerjaan mereka masing-masing. Hal ini akan menjadi nilai tambah bagi karyawan dan bahkan bagi perusahaan tersebut.

Selain membuka kesempatan bagi karyawan untuk menempuh pendidikan lanjut, PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen juga memberikan pendidikan non formal melalui pendidikan dan pelatihan (diklat).  Ringkasan Capaian 2 (dua) tahun Direksi PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen, pada Bidang Umum, menunjukkan bahwa Divisi SDM telah konsekuen menyelenggarakan diklat/pelatihan sebanyak 15 kali yang termuat dalam Program Kerja Non-teknik. Selain itu, di luar pendidikan formal dan non formal, manajemen PDAM Tirto Negoro juga mengembangkan pendidikan informal pada karyawan, yaitu dengan memberikan karyawan buku-buku motivasi dalam rangka perubahan budaya organisasi. Buku-buku bertema besar perubahan karangan Rhenald Khasali, P.hD ini, antara lain: “Change!”, “Myelin”, “Re-Code”, “Cracking Zone”, dan “Powerhouse”. Selanjutnya, buku-buku tersebut pun dilakukan pengkajian secara mendalam dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan dalam peringatan HUT PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen ke-23 lalu. Melalui buku-buku tersebut diharapkan dapat memberi nilai tambah pada karyawan. 

Johan Bhimo Sukoco
*) Gambar diambil darisini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar