“Sebaik-baik
kalian adalah orang yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan
Muslimin). Demikian hadist tersebut menguatkan saya dalam mendalami Al Quran
melalui tahsin di sebuah lembaga belajar Al Quran. B’Quran, demikian nama
lembaga tersebut. Setiap tiga kali dalam seminggu, saya rutin mendalami tahsin
dan tajwid dengan bimbingan Ustadz Anas. Setiap hari Senin dan Selasa pukul 19.15
s/d 20.15 WIB, dan setiap akhir pekan di hari Sabtu pukul 16.00 s/d 17.00 WIB. Lokasinya
di Jalan Jawa Nomor 77, Sragen Wetan, Sragen.
Belajar
di lembaga tersebut mengingatkan saya saat semasa kecil belajar di TPA (Tempat
Pendidikan Al Quran) di masjid kampung ataupun belajar secara privat. Hal yang
sama adalah saat itu saya belajar bersama teman seumuran dan disini saya juga
belajar dengan teman sebaya pula. Pada suatu waktu, rekan sekantor saya mengutarakan
niatannya untuk belajar membaca Al Quran, dan secara kebetulan saya juga
memiliki niat untuk memperdalam bacaan saya maupun tajwidnya. Sepertinya niat
baik ini memang mendapat jalannya sendiri, hingga kami menemukan lembaga
belajar tersebut. Selama ini saya merasa bacaan saya belum sempurna secara
makhrorijul hurufnya. Di sisi lain, pemahaman tajwid saya juga minus. Belakangan,
saya merasa sangat beruntung belajar di majelis ini, karena semakin lama saya
belajar semakin membukakan mata saya bahwa selama ini saya seperti katak dalam
tempurung yang merasa sudah puas dengan kemampuan membaca Al Quran. Pada
kenyataannya masih banyak ilmu tadjwid yang belum saya pahami dengan baik.
Masih banyak pula makhrorijul huruf yang belum sempurna. Yang di kemudian hari,
saya menyadari bahwa hal sekecil ini tentu dapat mengubah arti suatu ayat.
Sebenarnya,
apakah tajdwid itu? Menurut Masruri Yahya MS dan Drs M. Ashim Yahya (2010 : 4),
Ilmu tajwid secara bahasa adalah tahsin (memperbaiki). Sementara itu, menurut
istilahnya adalah ilmu yang mempelajari cara pengucapan huruf-huruf Al Quran
yang meliputi sifat, makhraj (tempat keluarnya huruf) dan ahkamul huruf (ketentuan
bunyi huruf). Beberapa ayat dan hadist yang hadir mengingatkanku untuk terus,
terus, dan terus mempelajari Al Quran, antara lain Q.S. Al -Muzzammil : 4, yang
berbunyi: “……dan bacalah Al Quran dengan tartil.” Kemudian, tertuang dalam Q.S.
Al Furqon : 32, yang berbunyi “Berkatalah orang-orang yang kafir.’Mengapa Al
Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya
Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan
benar).” Adapula Hadist Riwayat Tirmidzi yang menuliskan “Akan dikatakan kepada
pembaca dan penghafal Al Quran, ‘Bacalah (hafalanmu), naiklah (ke atas surga)
dan bacalah dengan tartil (baik) sebagaimana dahulu kamu pernah membacanya di
dunia. Karena kedudukanmu di surga berada pada akhir ayat yang kamu baca.”
Demikian
ayat-ayat dan hadist yang menguatkan saya untuk istiqomah mempelajari Al Quran.
Kedepannya, saya ingin kelak justru saya sendirilah orang pertama yang
mengajarkan anak saya bagaimana membaca Al Quran dengan baik dan benar. Saya
ingin menjadikan hal ini sebagai amal jariyah yang tiada putus, dimulai dari
keluarga terkecil. Semoga waktu itu akan datang.
Pembelajaran
pun dimulai. Kami masuk di kelas dewasa, dimana awalnya di kelas kami terdiri
dari lima santri. Seiring berjalannya waktu, hanya tinggal tiga santri saja
yang mampu bertahan. Hal ini bisa dimaklumi, karena tanpa niat yang kuat maka
tingkat kehadiran akan semakin lama semakin menurun. Bersyukur, saya bersama
dua orang santri lainnya dapat bertahan. Kami belajar dari awal pengenalan
huruf hijaiyah, bagaimana makhrorijul hurufnya, sampai dengan pelajaran terkait
tajwid. Kami memperdalam pemahaman mengenai Ikhfa, Idhom Bi Ghunnah, Idhom Bila
Ghunnah, Iqlab, dan kajian-kajian tajwid lainnya. Beberapa minggu terakhir ini
pembelajaran untuk semester ini berakhir, dan akan dilanjutkan di semester
berikutnya dengan tingkatan yang lebih tinggi. Serasa rindu untuk kembali
mempelajari seluk beluk bacaan kitab suci Al Quran. Semoga kami masih diberi
kesempatan untuk kembali lagi hadir dalam majelis ilmu ini. Amin.
Johan Bhimo Sukoco
*) Gambar diambil darisini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar