Sabtu, 30 Januari 2016

Mentalitas ala HERO

Artikel ini merupakan hasil kajian penulis yang didapat melalui seminar bertema besar “On Becoming A Sales HERO”. Sebuah seminar terkait pengembangan karakter seorang sales & marketing yang diselenggarakan MarkPlus Institute. Seminar yang diselenggarakan pada tanggal 6 Desember 2013 ini dipandu oleh Bayu Asmara, Chief Executive MarkPlus Institute. Penulis berkesempatan langsung mengikuti seminar yang diselenggarakan di The Sunan Hotel Solo ini.

Pada dasarnya terdapat 4 (empat) macam capital/modal, yaitu: economic capital, human capital, social capital, dan psychological capital. Economic capital, meliputi uang, mobil, kendaraan, tanah, dan lain sebagainya. Human capital, meliputi pengalaman, pendidikan, keterampilan, dan ide. Social capital, meliputi saudara, jaringan, dan teman. Sementara psychological capital, meliputi Hope (harapan), Efficacy (kepercayadirian), Resiliency (kemampuan bertahan), dan Optimism (optimis). Konten ini lebih menitikberatkan pada psychological capital ini. Seperti dikatakan dalam penelitian Luthans, Fred, Carolyn M Youssef, Bruce J. Avolio (2007), bahwa factor pembentuk sikap positif, 50 % factor genetic,10 % kondisi eksternal, dan 40 % sikap yang kita pilih (merupakan area yang bias kita ubah dan kita pengaruhi, dinamakan psychological capital). Luthans, Fred, Carolyn M Youssef, Bruce J. Avolio (2007) menyebutkan keberhasilan seseorang ditentukan oleh 4 (empat) sifat, yaitu: Hope, Efficacy, Resiliency, dan Optimism (yang kemudian disingkat HERO). Di bawah ini akan dibahas masing-masing factor tersebut disertai contoh kasusnya.

Hope. Yaitu harapan atau keinginan yang kuat untuk berhasil. Menurut C. Rick Snyder (1991), “hope” adalah kondisi mental positif yang muncul karena perasaan berhasil dalam (1) mengarahkan energy untuk mencapai suatu tujuan, dan, (2) menciptakan rencana untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi, dalam “hope” ini, perlu diarahkan pada “will-power” (keinginan untuk berhasil, dan “way-power” (strategi untuk mencapainya). Contoh kasusnya ialah, Merry Riana, dimana ia memiliki mimpi menghasilkan $ 1.000.000 pada usia 26 tahun. Merry Riana dalam hal ini tidak hanya bertopang dagu untuk mewujudkan mimpinya, melainkan ia berusaha keras  mencari jalan dengan meminjam dana beasiswa dari Bank Pemerintah Singapura sebesar $ 40.000 dan bekerja keras serta setelah menamatkan pendidikan ia memulai usaha penjualan di bidang jasa keuangan. Pada akhirnya, Merry Riana mampu mewujudkan mimpinya di usia 26 tahun, dengan kemapanan financial $1.000.000.

Efficacy. Yaitu kepercayadirian. Menurut Stajkovic & Luthan (1998), efficacy adalah keyakinan seseorang akan kemampuan dirinya dalam menciptakan motivasi, mengumpulkan sumber daya mental, dan menjalankan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk melaksanakan suatu tugas spesifik. Perlu disadari, bahwa efficacy ini dipengaruhi juga oleh orang lain dan latihan atau kemahiran. Contoh kasusnya, ialah Joe Kamdani. Ia adalah founder and chairman PT Datascript. Sebelumnya, ia mengawali karir sebagai salesman lepas alat tulis kantor. Dengan kepercayaan diri yang terbangun, Joe Kamdani mendirikan usaha PD Matahari (1969) yang kemudian bermetamorfosis menjadi PT Datascrip. Krisis ekonomi tahun 1997-1998 membuat perusahaannya sempat berfikir hanya sanggup bertahan dan nyaris tanpa keuntungan. Namun, pada akhirnya, perusahaan ini berhasil melewati krisis dengan baik. Menurut Joe Kamdani, tips nomor wahid bagi seorang sales, ialah melahirkan kepercayaan dalam tindakan maupun ucapan.

Resiliency. Yaitu ketahanan diri. Menurut Masten, Reed, Luthan, Avolio dan Youssef, Resiliency adalah kemampuan untuk bangkit kembali dari kesulitan, konflik, atau kegagalan. Dapat kita pelajari istilah “bouncing back and beyond” (bangun dan kembali bangkit). Adapun karakter orang yang mampu bangkit dari kegagalan ialah (1) tahan banting, dan (2) memiliki mental yang tangguh. Contoh kasusnya, ialah Colonel Sanders (KFC). Sanders pernah mendatangi lebih dari 1.000 restoran untuk menawarkan resep masakan KFC-nya dan berkali-kali ia mengalami penolakan. Namun demikian, dengan sikap tahan banting, pada akhirnya ia berhasil sukses dengan resep masakan ala  KFC-nya  sampai dengan abad sekarang. Lalu, banyangkan saja apa yang terjadi jika Sanders berhenti dan menyerah di restoran ke 100 ?

Optimism. Yaitu positif memandang masa depan. Menurut Martin Seligman (1998), optimism adalah cara berfikir yang menghubungkan kejadian-kejadian positif dengan sebab yang bersifat personal, permanen, dan terus menerus, namun menghubungkan kejadian negative dengan sebab yang eksternal, sementara, dan spesifik. Ada 3 (tiga) tips untuk meningkatkan optimism ini, yaitu:  (1) memperingati masa lalu; (2) merayakan masa kini, dan (3) bangun masa depan. Contoh kasusnya, Irwan Hidayat. Ia adalah Presiden Direktur PT Sido Muncul. Awal perjuangan di tahun 1970 ia bekerja keras membangun konsep pemasaran dengan membentuk team sales, mengingat pada saat itu belum ada pihak distributor yang mendistribusikan produk-produknya. Irwan Hidayat membangun team sendiri dan mengawalinya dari Surabaya dan Jakarta. Pada awalnya memang pahit, misalnya produk belum ada yang sanggup terjual. Namun,  dengan sikap optimis, akhirnya Irwan Hidayat mampu membuktikan bahwa pemasaran merupakan ujung tombak perusahaannya.

Sebagai penutup dari artikel ini, penulis mengingatkan kembali pentingnya psychological capital dalam pengembangan diri, khususnya dalam meningkatkan kinerja pada bidang sales & marketing. Sebagai agen pemasaran, kita perlu menempa diri dengan prinsip-prinsip HERO seperti yang telah diuraikan di atas. Hope. Efficacy. Resiliency. Optimism. Siapkah kita menempa diri menjadi sales bermental HERO?

Johan Bhimo Sukoco
*) gambar diambil darisini