Masihkah kau di sini?
Bergerak memandang kota
Yang dulu hanya berhias becak
Kini berganti dengan taksi dan asap
Masihkah kau tinggikan bahumu?
Melihat budaya yang makin tergerus
Berpindah tangan pada pengelola hiburan
Ataukah kau bahkan buta?
Adakah kau mencibir?
Membiarkan sejarah menjadi jarahan
Membiarkan budaya menjadi tak berdaya
Masihkah ada rasa rindu darimu?
Menyambut menara-menara meninggi,
Menyahut tanah terpatri semen?
Kau dan aku masih sama seperti dulu
Menggayung rupiah lebih enak
Dari sekadar,
Melihat budaya terpelihara
Sragen,
Johan Bhimo Sukoco
Bergerak memandang kota
Yang dulu hanya berhias becak
Kini berganti dengan taksi dan asap
Masihkah kau tinggikan bahumu?
Melihat budaya yang makin tergerus
Berpindah tangan pada pengelola hiburan
Ataukah kau bahkan buta?
Adakah kau mencibir?
Membiarkan sejarah menjadi jarahan
Membiarkan budaya menjadi tak berdaya
Masihkah ada rasa rindu darimu?
Menyambut menara-menara meninggi,
Menyahut tanah terpatri semen?
Kau dan aku masih sama seperti dulu
Menggayung rupiah lebih enak
Dari sekadar,
Melihat budaya terpelihara
Sragen,
Johan Bhimo Sukoco
*) Sajak ini pernah dimuat dalam Harian Solopos, Edisi : Minggu, 12 Juli 2009 , Hal.VIII
**) Gambar diambil
darisini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar