Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi
(Kemenristekdikti) pada 2017 ini telah menetapkan peringkat perguruan tinggi di
Indonesia. Pemeringkatan ini menggunakan sistem pengelompokan atau klaster. Pemeringkatan
ini dilakukan dengan menilai empat komponen utama. Pertama, kualitas
sumber daya manusia. Kedua, kualitas kelembagaan. Ketiga,
kualitas kegiatan kemahasiswaan. Keempat, kualitas penelitian dan
publikasi ilmiah. Pada 17 Agustus 2017 lalu diumumkan pemeringkatan perguruan
tinggi di Indonesia klaster I untuk tahun 2017 diikuti dengan pengumuman
peringkat 100 besar perguruan tinggi nonpoliteknik dan 25 besar perguruan
tinggi politeknik di Indonesia yang diumumkan pada 21 Agustus 2017.
Hal yang menarik untuk dikaji adalah hanya tiga
perguruan tinggi di Soloraya yang berhasil menembus peringkat 100 besar
perguruan tinggi nonpoliteknik dan 25 besar perguruan tinggi politeknik di
Indonesia pada 2017 ini. Perguruan tinggi tersebut adalah Universitas Sebelas
Maret (peringkat ke-11), Universitas Muhammadiyah Surakart (peringkat ke-69),
dan Universitas Slamet Riyadi (peringkat ke-94). Soloraya memiliki kurang lebih
64 perguruan tinggi, namun ternyata hanya satu perguruan tinggi negeri dan dua
perguruan tinggi swasta yang mampu menembus 100 besar pemeringkatan ini. Tiga
perguruan tinggi di Soloraya yang mampu menembus 100 besar perguruan tinggi
nonpoliteknik di Indonesia pada 2017 ini layak diapresiasi.
Universitas Sebelas Maret yang berdiri pada11
Maret 1976 meraih peringkat ke-11. Peringkat ini naik satu tingkat dari tahun
sebelumnya yang berada di peringkat ke-12. Pada pemeringkatan lain, Universitas
Sebelas Maret mampu meraih peringkat ke-5 dari 100 universitas terbaik di
Indonesia versi 4 International Colleges & Universities (4ICU) yang diliris
pada 29 Juli 2017 lalu.
Universitas Muhammadiyah Surakarta sebagai
perguruan tinggi swasta di bawah Persyarikatan Muhammadiyah berada di peringkat
ke-69. Universitas Muhammadiyah Surakarta mampu menembus peringkat ke-8 World
Class University versi Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking yang
diliris pada 8 Juni 2017 lalu. Universitas ini merupakan satu-satunya perguruan
tinggi swasta di Indonesia yang masuk daftar pemeringkatan tersebut.
Universitas Slamet Riyadi adalah sebuah
universitas yang mengedepankan nilai-nilai perjuangan pahlawan yang lahir di
Kota Solo, yaitu Brigadir Jenderal (Anumerta) Slamet Riyadi. Universitas ini
berada di peringkat ke-94, mengungguli 3.244 perguruan tinggi negeri dan swasta
se-Indonesia. Pada 2017 ini Universitas Slamet Riyadi menunjukkan kenaikan
prestasi yang signifikan dari tahun sebelumnya yang berada di peringkat ke-101.
Pada 2014 lalu Universitas Slamet Riyadi menorehkan prestasi sebagai peringkat
ke-2 perguruan tinggi swasta se-Soloraya terbaik versi Webrometrics.
Untuk dapat menembus pemeringkatan ini, perguruan
tinggi negeri dan swasta di Soloraya perlu memahami komponen utama yang
digunakan. Komponen kualitas sumber daya manusia sebagai komponen pertama
meliputi persentase dosen berpendidikan S3, persentase dosen dalam jabatan
lektor kepala dan guru besar, dan rasio jumlah dosen dan jumlah mahasiswa. Persentase
dosen berpendidikan S3 ini telah mendapatkan perhatian dari perguruan tinggi di
Soloraya. Universitas Muhammadiyah Surakarta memiliki 120 dosen bergelar
doktor. Komponen berikutnya yaitu kualitas kelembagaan yang mengacu pada
akreditasi institusi dan akreditasi program studi.
Permasalahan akreditasi ini masih menjadi problem
terbesar bagi pengelola perguruan tinggi swasta di Soloraya. Perguruan tinggi
swasta di Soloraya yang memiliki akreditasi institusi A hanya Universitas
Muhammadiyah Surakarta, sedangkan yang punya akreditasi institusi B hanya
Universita Slamet Riyadi dan Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Kebanyakan
perguruan tinggi swasta di Soloraya masih terakreditasi institusi C atau bahkan
belum terakreditasi institusi, padahal komponen kualitas kelembagaan dalam pemeringkatan
pada 2017 ini sudah ditambah dengan indikator jumlah program studi yang
memiliki akreditasi/sertifikasi international dan jumlah mahasiswa asing.
Hal ini tentu menambah problem yang sebelumnya
belum dapat dirampungkan pengelola perguruan tinggi swasta di Soloraya.
Komponen kualitas kegiatan mahasiswa pada pemeringkatan 2017 ini masih mengarah
pada indikator prestasi mahasiswa, namun variabelnya lebih dikerucutkan pada
prestasi mahasiswa secara nasional dan internasional, baik dalam kegiatan yang
dikelola oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi maupun oleh
lembaga lain. Komponen ini juga diarahkan pada tingkat kepedulian perguruan
tinggi/institusi terhadap kegiatan kemahasiswaan. Komponen yang terakhir adalah
kualitas penelitian dan publikasi ilmiah. Pada tahun ini tidak hanya diarahkan
pada kinerja penelitian dan rasio jumlah publikasi terindeks terhadap jumlah
dosen, namun juga ditambah indikator kinerja pengabdian pada masyarakat. Universitas
Sebelas Maret, misalnya, masuk ke dalam 50 perguruan tinggi paling produktif
dalam publikasi ilmiah jurnal internasional terindeks Scopus. Selain itu,
Universitas Sebelas Maret juga mulai menghilirkan dan mengomersialkan hasil
penelitian.
Pemeringkatan oleh Kementerian Riset Teknologi
dan Pendidikan Tinggi pada 2017 ini bermanfaat dalam meningkatkan mutu
perguruan tinggi secara berkelanjutan dalam melaksanakan Tridharma Peguruan
Tinggi dan meningkatkan kesehatan lembaga. Melalui sistem pengelompokan atau
klaster ini diharapkan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi akan
dapat menyusun formula yang tepat dalam pembinaan klaster perguruan tinggi
tersebut. Beranjak dari hal ini maka dirasa perlu kesamaan visi dan misi dari
pengelola perguruan tinggi dan stakeholders dalam membenahi
kelembagaan maupun daya saing sehingga mampu masuk ke pemeringkatan oleh
Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada tahun mendatang.
Pemeringkatan ini dapat meningkatkan kepercayaan
masyarakat terhadap perguruan tinggi. Masyarakat akan lebih selektif dalam
memilih berkuliah di perguruan tinggi, tentu memilih perguruan tinggi yang
berkualitas. Pengguna lulusan perguruan tinggi juga akan memerhatikan peringkat
perguruan tinggi ketika menyeleksi tenaga kerja berkualifikasi sarjana atau
diploma.
Johan Bhimo Sukoco,
Dosen Ilmu Administrasi Negara,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Slamet Riyadi Surakarta.
nb: Artikel ini dimuat di Harian Solopos, 13 September 2017. Untuk versi online, dapat pula dilihat disini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar