Pada
Kamis, 14 September 2017 lalu saya berkesempatan mengikuti acara Konsultasi
Publik “Inisiatif Global Value Chains (GVCs) di APEC dan Perkembangan
Pemanfaatannya di Indonesia”. Acara ini diselenggarakan di Hotel The Sunan
Surakarta. Pada kegiatan ini dipaparkan tiga materi yang dipaparkan oleh
masing-masing perwakilan. Pertama, Perkembangan Inisiatif GVCs dan Peran Aktif
Indonesia di APEC dengan narasumber perwakilan Subdit Fasilitasi Perdagangan
dan Investasi APEC, Direktorat Perundingan APEC dan Organisasi Internasional,
Kementerian Perdagangan. Kedua, Peluang dan Tantangan Pengembangan Partisipasi
Kota Surakarta dalam GVCs, dengan narasumber Ibu Endang K. Maharani, S.Sos,
M.Si yang merupakan Kasie Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perdagangan Kota
Surakarta. Ketiga, Arti Penting GVCs dalam Evolusi Perdagangan Internasional
dan Peluang Keterlibatan Indonesia, dengan narasumber Achmad Shauki, Senior
Economist in the Area of Trade and Competitiveness, Australia Indonesia
Patnership for Economic Governance (AIPEG).
Inti
dari GVCs itu sendiri adalah fragmentasi produksi barang dan jasa di beberapa
negara yang terkoneksi untuk menciptakan nilai tambah dalam suatu produk final.
GVCs menawarkan kesempatan dan potensi keuntungan yang begitu besar, namun
demikian belum semua negara di dunia berada pada level partisipasi yang sama di
dalamnya. Partisipasi Indonesia dalam GVCs lebih rendah dari negara-negara
lain. Pada tahun 2009, misalnya, partisipasi Indonesia hanya 30,12 % kalah
dibandingkan Malaysia 57,74 % dan Filiphina 66,13 %. Ada beberapa kemungkinan
yang mendasarinya, antara lain kebijakan perdagangan dan investasi yang
cenderung restriktif, biaya logistic (transportasi, gudang) yang relative lebih
tinggi, sektor jasa (telekomunikasi, distribusi, R & D) yang masih belum
memadai, dan hambatan non tarif terkait import maupun eksport yang masih
tinggi.
Indonesia
mendukung inisiatif pengembangan aktivitas GVCs di kawasan APEC, khususnya yang
mendorong perkembangan industry, peningkatan investasi, dan intensifikasi
ekspor Indonesia. Negosiasi dan keaktifan dalam forum APEC tidak cukup tanpa
adanya upaya persiapan dan pembenahan di dalam negeri menyongsong partisipasi
pelaku industry dalam negeri. Perlu adanya pemahaman bersama dari seluruh
kepentingan di dalam negeri untuk mendorong pengambilan manfaat semaksimal
mungkin dari aktivitas GVCs. Peluang di sektor lainnya di kawasan yang dapat
dimanfaatkan, termasuk oleh Indonesia antara lain industry alas kaki, tekstil,
elektronik, agro-food, komponen kendaraan bermotor, dan pesawat terbang, serta
barang-barang kerajinan. Kota Surakarta sendiri memiliki komoditi utama ekspor,
seperti tekstil dan produk tekstil, batik, kantong plastic, mebel kayu, dan
mebel rotan. Adapun negara tujuan ekspornya meliputi USA, Japan, United
Kongdom, Germany, dan Uni Eropa.
Surakarta,
Johan
Bhimo Sukoco
*)
Gambar merupakan dokumentasi pribadi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar