Pendidikan merupakan hasil peradaban bangsa yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa
itu sendiri, sebagai pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan
penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang (Siti Meichati,
1980:6). Fungsi pendidikan secara
sosiologik ialah proses penerus nilai-nilai dari generasi dahulu ke generasi
sekarang, atau disebut sosialisasi. Dalam hal ini, pendidikan mengemban fungsi sebagai
agen perubahan sosial (agen of change)
di masyarakat. Menurut Agus Salim (2007:106), gagasan pendidikan sebagai proses
sosiologi bersumber dari konsep utama pendidikan sosiolog besar Max Weber. Sosialisasi merupakan proses belajar
dari individu untuk menjadi anggota masyarakat.
H.M. Zainuddin (2008:24), menambahkan,
proses sosialisasi itu tidak selalu berjalan dengan mulus, karena sering
terjadi pertentangan kepentingan dari berbagai pihak mengenai isi pendidikan,
alokasi status dan pemerataan kesempatan pendidikan, peranan dan fungsi lembaga
pendidikan dalam masyarakat. Perubahan dalam sistem pemerintahan juga akan
mempengaruhi pemosisian pendidikan dalam kehidupan masyarakat dan tentunya
sistem penyelenggaraan pendidikan.Pengembangan pendidikan di
Indonesia telah diamanahkan dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat 1 dan 2. Pasal 31 ayat
1 disebutkan bahwa tiap-tiap
warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Sementara Pasal 31 ayat 2,
dikatakan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran
nasional, yang diatur undang-undang. Secara lebih implisit, Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah mengatur lebih jauh terkait kewajiban pemerintah pusat dan daerah
dalam memberikan pelayanan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya
pendidikan warga negara,
Selama
ini sektor pendidikan terkesan cenderung terpisah dengan sektor
ketenagakerjaan. Dapat dikatakan ada semacam sekat yang memisahkan dua sektor
tersebut. Sektor pendidikan berdiri dalam rangka penguatan kualitas Sumber Daya
Manusia (SDM), sementara sektor ketenagakerjaan cenderung lebih mempersoalkan
pemenuhan tenaga kerja. Padahal, apabila dikaji, antara sektor pendidikan dan
ketenagakerjaan ini memiliki link satu sama lain. Berbicara terkait pendidikan,
bukan hanya berfokus pada penyiapan kualitas SDM untuk memasuki dunia kerja.
Lebih dari itu, pendidikan juga dibutuhkan dalam rangka penguatan kualitas SDM
selama bekerja. Beranjak dari hal ini, maka banyak instansi pemerintah ataupun
perusahaan swasta yang memberikan peluang bagi karyawannya untuk melanjutkan
pendidikan lebih lanjut. Dewasa ini, banyak karyawan yang memutuskan untuk
bekerja sambil kuliah lanjut, baik dengan menggunakan biaya sendiri ataupun
beasiswa dari perusahaan atau di luar perusahaan.
PDAM
Tirto Negoro, sebagai salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten
Sragen, sangat membuka kesempatan bagi karyawan untuk menempuh atau melanjutkan
pendidikan. Tidak sedikit karyawan yang menempuh pendidikan lanjut, semisal
S1/S2 di sela-sela kesibukan pekerjaan. Diharapkan dengan menempuh pendidikan
lanjut ini, kualitas SDM di perusahaan tersebut dapat meningkat. Dengan
demikian, ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan dapat diimplementasikan di
pekerjaan mereka masing-masing. Hal ini akan menjadi nilai tambah bagi karyawan
dan bahkan bagi perusahaan tersebut.
Selain
membuka kesempatan bagi karyawan untuk menempuh pendidikan lanjut, PDAM Tirto
Negoro Kabupaten Sragen juga memberikan pendidikan non formal melalui
pendidikan dan pelatihan (diklat). Ringkasan Capaian 2 (dua) tahun Direksi PDAM
Tirto Negoro Kabupaten Sragen, pada Bidang Umum, menunjukkan bahwa Divisi SDM
telah konsekuen menyelenggarakan diklat/pelatihan sebanyak 15 kali yang termuat
dalam Program Kerja Non-teknik. Selain itu, di luar pendidikan formal dan non
formal, manajemen PDAM Tirto Negoro juga mengembangkan pendidikan informal pada
karyawan, yaitu dengan memberikan karyawan buku-buku motivasi dalam rangka
perubahan budaya organisasi. Buku-buku bertema besar perubahan
karangan Rhenald Khasali, P.hD ini, antara lain: “Change!”, “Myelin”, “Re-Code”, “Cracking Zone”, dan “Powerhouse”. Selanjutnya, buku-buku
tersebut pun dilakukan pengkajian secara mendalam dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan dalam peringatan
HUT PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen ke-23 lalu. Melalui buku-buku tersebut diharapkan dapat memberi nilai
tambah pada karyawan.
Johan Bhimo Sukoco
*) Gambar diambil darisini




