Ini adalah cerita tentang kepingan hidup
saya saat menjadi asisten dosen. Pada kisaran tahun ajaran 2012/2013 lalu, setelah
memperoleh gelar sarjana, saya mendapat amanah menjadi asisten dosen dari
seorang dosen yang sangat saya kagumi. Beliau adalah Ibu A.W. Erlin Mulyadi,
S.Sos, MPA, seorang dosen lulusan University of Hawaii, USA. Pertama kali
mendapat tawaran menjadi asisten dosen, saya sempat ragu dan berjanji akan
memberikan jawaban sesegera mungkin. Pada akhirnya, setelah melalui pemikiran
yang matang dan restu dari ibu saya, saya akhirnya memutuskan menerima tawaran
tersebut. Ini kesempatan terbaik saya mengamalkan ilmu, toh pada saat itu saya
tengah dalam masa tunggu untuk studi lanjut ke jenjang S2 di kampus yang sama.
Saya mendapatkan amanah menjadi asisten
dosen untuk mata kuliah Sistem Informasi Manajemen. Saya mengajar untuk 3 SKS
pada Program Studi Manajemen Administrasi, Program Diploma 3, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Di kelas ini,
saya mengajar sebanyak 50 mahasiswa. Mengajar di kelas ini mengingatkan saya
saat menjadi mahasiswa di program studi yang sama. Saya merupakan lulusan
Program Studi Diploma 3 Manajemen Administrasi yang melanjutkan studi ke
jenjang Strata 1 Program Studi Ilmu Administrasi Negara, dan melanjutkan lagi
ke jenjang Strata 2 Program Studi Magister Administrasi Publik. Semangat
belajar ini saya tularkan ke mereka agar memiliki daya tahan yang kuat terhadap
setiap pembelajaran di kampus.
Menjadi asisten dosen, mengharuskan saya
harus banyak membaca materi, membuat modul, dan bahan ajar yang up to date. Selain itu, hal yang perlu
digarisbawahi adalah materi yang saya ajarkan harus dapat diimplementasikan
dalam dunia kerja, mengingat mahasiswa yang ada di depan saya adalah mahasiswa
diploma yang diharapkan lebih banyak praktik dan teknis daripada menyerap teori.
Mereka adalah calon administrator handal yang perlu dibekali oleh ilmu-ilmu
praktis. Hal ini saya terapkan dalam Uji Kompetensi Dasar II, dimana saya
sengaja membuat format penilaian dengan melihat bagaimana penerapan atau
implementasi Sistem Informasi Manajemen dalam sebuah organisasi publik. Saya
membagi mahasiswa ke dalam delapan kelompok, dimana setiap kelompok terdiri
dari sekitar 6 s/d 7 mahasiswa. Kelompok-kelompok ini kemudian saya undi untuk
membahas mengenai implementasi Sistem Informasi Manajemen di perguruan tinggi/sekolah,
hotel, perpustakaan, supermarket/mall, pabrik konveksi, bank, rumah sakit,
sampai dengan kantor pos. Mereka diharuskan presentasi dimana jadwalnya saya
undi pada hari H, sehingga diharapkan semua kelompok selalu siap dengan
materinya masing-masing. Hasilnya? Sangat menggembirakan. Setiap kelompok
mempresentasikan dengan baik implementasi Sistem Informasi Manajemen di masing-masing
organisasi publik sesuai hasil undian. Sebagian besar kelompok mempraktikkan
software yang digunakan dalam organisasi yang bersangkutan.
Perkuliahan seringkali saya sisipkan
dengan diskusi dan tanya jawab. Bahkan, dalam Uji Kompetensi Dasar II, saya
sengaja membuat format penilaian dengan mempertimbangkan poin keaktifan dan
partisipasi dalam diskusi kelompok. Pada perkuliahan, seringkali saya mencatat
nama-nama mahasiswa yang aktif dalam diskusi. Saya berusaha mengarahkan mereka
agar tidak canggung untuk berbicara di depan umum, dan lebih aktif dalam
menyampaikan pendapatnya. Hal ini mudah-mudahan dapat menjadi bekal bagi mereka
saat bekerja nantinya. Format diskusi ini selain membangun kepercayaan diri
mereka, juga saya harapkan mampu mengusir rasa jenuh dan mengantuk, mengingat
jam mata kuliah yang saya ajarkan berada di ujung hari, yaitu pukul 14.30 s/d
16.55 WIB. Selain diskusi, untuk menghangatkan suasana, saya selalu menawarkan sebuah
cuplikan video berdurasi pendek terkait dengan topik materi yang dibahas pada
hari itu. Semisal pada saat membahas mengenai materi etika dan keamanan dalam
teknologi informasi, saya sengaja memutar video kasus pencurian hardware di
warung internet (warnet) oleh oknum. Biasanya lampu akan saya matikan selama video
diputar, dan setelah selesai akan saya ajukan pertanyaan yang kemudian kita
bahas dalam sebuah diskusi.
Mengajar, bagi saya bukan hanya ajang
menyampaikan ilmu melainkan juga menyusupkan pesan-pesan moral ke anak didik. Saya
selalu memulai dan mengakhiri pembelajaran di kelas dengan berdoa bersama.
Seringkali saya sisipkan pesan-pesan kehidupan kepada mereka. Semoga
nilai-nilai moral dan spiritual yang saya sampaikan ini dapat mereka terapkan
dalam kehidupan sehari-hari. Mengajar, adalah juga memberikan kesempatan kita
untuk belajar. Semakin kita banyak memberikan ilmu, maka semakin banyak yang
akan kita peroleh dari ilmu tersebut. Boleh jadi, hakikat sedekah ilmu bergerak
dalam proses ini. Saya ingat pesan William Glaaser, yang menulis : “We Learn … 10 % of what we read. 20 % of
what we hear. 30 % of what we see. 50 % of what we see and hear. 70 % of what
we discuss. 80 % of what we experience. 95 % of what we teach to others.” Semoga
ilmu yang saya sampaikan ini mampu menjadi amal jariyah yang tidak akan
terputus saat saya meninggal nanti. Dan mudah-mudahan saya dapat kembali terjun
ke dunia pendidikan untuk mengamalkan kembali ilmu yang telah diamanahkan ke
pundak saya. Demikian harapan ini selalu saya pupuk dan rawat dengan baik, agar
di kemudian hari benihnya dapat segera disemai.
Johan Bhimo Sukoco