Minggu, 14 Agustus 2016

Menjadi Asisten Dosen



Ini adalah cerita tentang kepingan hidup saya saat menjadi asisten dosen. Pada kisaran tahun ajaran 2012/2013 lalu, setelah memperoleh gelar sarjana, saya mendapat amanah menjadi asisten dosen dari seorang dosen yang sangat saya kagumi. Beliau adalah Ibu A.W. Erlin Mulyadi, S.Sos, MPA, seorang dosen lulusan University of Hawaii, USA. Pertama kali mendapat tawaran menjadi asisten dosen, saya sempat ragu dan berjanji akan memberikan jawaban sesegera mungkin. Pada akhirnya, setelah melalui pemikiran yang matang dan restu dari ibu saya, saya akhirnya memutuskan menerima tawaran tersebut. Ini kesempatan terbaik saya mengamalkan ilmu, toh pada saat itu saya tengah dalam masa tunggu untuk studi lanjut ke jenjang S2 di kampus yang sama. 

Saya mendapatkan amanah menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Sistem Informasi Manajemen. Saya mengajar untuk 3 SKS pada Program Studi Manajemen Administrasi, Program Diploma 3, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Di kelas ini, saya mengajar sebanyak 50 mahasiswa. Mengajar di kelas ini mengingatkan saya saat menjadi mahasiswa di program studi yang sama. Saya merupakan lulusan Program Studi Diploma 3 Manajemen Administrasi yang melanjutkan studi ke jenjang Strata 1 Program Studi Ilmu Administrasi Negara, dan melanjutkan lagi ke jenjang Strata 2 Program Studi Magister Administrasi Publik. Semangat belajar ini saya tularkan ke mereka agar memiliki daya tahan yang kuat terhadap setiap pembelajaran di kampus. 

Menjadi asisten dosen, mengharuskan saya harus banyak membaca materi, membuat modul, dan bahan ajar yang up to date. Selain itu, hal yang perlu digarisbawahi adalah materi yang saya ajarkan harus dapat diimplementasikan dalam dunia kerja, mengingat mahasiswa yang ada di depan saya adalah mahasiswa diploma yang diharapkan lebih banyak praktik dan teknis daripada menyerap teori. Mereka adalah calon administrator handal yang perlu dibekali oleh ilmu-ilmu praktis. Hal ini saya terapkan dalam Uji Kompetensi Dasar II, dimana saya sengaja membuat format penilaian dengan melihat bagaimana penerapan atau implementasi Sistem Informasi Manajemen dalam sebuah organisasi publik. Saya membagi mahasiswa ke dalam delapan kelompok, dimana setiap kelompok terdiri dari sekitar 6 s/d 7 mahasiswa. Kelompok-kelompok ini kemudian saya undi untuk membahas mengenai implementasi Sistem Informasi Manajemen di perguruan tinggi/sekolah, hotel, perpustakaan, supermarket/mall, pabrik konveksi, bank, rumah sakit, sampai dengan kantor pos. Mereka diharuskan presentasi dimana jadwalnya saya undi pada hari H, sehingga diharapkan semua kelompok selalu siap dengan materinya masing-masing. Hasilnya? Sangat menggembirakan. Setiap kelompok mempresentasikan dengan baik implementasi Sistem Informasi Manajemen di masing-masing organisasi publik sesuai hasil undian. Sebagian besar kelompok mempraktikkan software yang digunakan dalam organisasi yang bersangkutan. 

Perkuliahan seringkali saya sisipkan dengan diskusi dan tanya jawab. Bahkan, dalam Uji Kompetensi Dasar II, saya sengaja membuat format penilaian dengan mempertimbangkan poin keaktifan dan partisipasi dalam diskusi kelompok. Pada perkuliahan, seringkali saya mencatat nama-nama mahasiswa yang aktif dalam diskusi. Saya berusaha mengarahkan mereka agar tidak canggung untuk berbicara di depan umum, dan lebih aktif dalam menyampaikan pendapatnya. Hal ini mudah-mudahan dapat menjadi bekal bagi mereka saat bekerja nantinya. Format diskusi ini selain membangun kepercayaan diri mereka, juga saya harapkan mampu mengusir rasa jenuh dan mengantuk, mengingat jam mata kuliah yang saya ajarkan berada di ujung hari, yaitu pukul 14.30 s/d 16.55 WIB. Selain diskusi, untuk menghangatkan suasana, saya selalu menawarkan sebuah cuplikan video berdurasi pendek terkait dengan topik materi yang dibahas pada hari itu. Semisal pada saat membahas mengenai materi etika dan keamanan dalam teknologi informasi, saya sengaja memutar video kasus pencurian hardware di warung internet (warnet) oleh oknum. Biasanya lampu akan saya matikan selama video diputar, dan setelah selesai akan saya ajukan pertanyaan yang kemudian kita bahas dalam sebuah diskusi.  

Mengajar, bagi saya bukan hanya ajang menyampaikan ilmu melainkan juga menyusupkan pesan-pesan moral ke anak didik. Saya selalu memulai dan mengakhiri pembelajaran di kelas dengan berdoa bersama. Seringkali saya sisipkan pesan-pesan kehidupan kepada mereka. Semoga nilai-nilai moral dan spiritual yang saya sampaikan ini dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengajar, adalah juga memberikan kesempatan kita untuk belajar. Semakin kita banyak memberikan ilmu, maka semakin banyak yang akan kita peroleh dari ilmu tersebut. Boleh jadi, hakikat sedekah ilmu bergerak dalam proses ini. Saya ingat pesan William Glaaser, yang menulis : “We Learn … 10 % of what we read. 20 % of what we hear. 30 % of what we see. 50 % of what we see and hear. 70 % of what we discuss. 80 % of what we experience. 95 % of what we teach to others.” Semoga ilmu yang saya sampaikan ini mampu menjadi amal jariyah yang tidak akan terputus saat saya meninggal nanti. Dan mudah-mudahan saya dapat kembali terjun ke dunia pendidikan untuk mengamalkan kembali ilmu yang telah diamanahkan ke pundak saya. Demikian harapan ini selalu saya pupuk dan rawat dengan baik, agar di kemudian hari benihnya dapat segera disemai.

Johan Bhimo Sukoco
*) Gambar diambil darisini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar