Senin, 29 Februari 2016

Sampun Dalu, Sang Burung Perkutut



Suara jangkrik dan gemrisik Garengpung beradu dengan dinginnya malam. Sayup-sayup terdengar seolah melantunkan tembang-tembang macapat. Angin pun tak mau kalah. Silirnya tak henti menerpa dedaunan dan menimbulkan bunyi menderit pada bambu-bambu yang masih muda. Semua mengisyaratkan kalau malam memang sudah semakin larut, dan penanda segenap mahluk untuk segera kembali ke peristirahatannya masing-masing. Bahkan bapak-bapak di gardu ronda telah menyudahi patroli dan memilih mendengarkan radio buntut.
          “Sampun dalu,” begitu bisikku padamu dengan bahasa jawa, yang berarti sudah malam. Kata-kata itu tiba-tiba menusuk ingatanku. Selintas mengingatkanku pada sebuah nama. Dia yang belakangan ini selalu kurindukan. Memori-memori usang akan berjejalan menerobos dinding otak ini manakala mengingatnya. Padahal, ia selalu bersemayam dalam hatiku. Namun, aku mohon jangan pernah menanyakan mengapa. Toh, anda dan orang-orang di luar sana tidak akan mampu mengejawantahkan kerinduan seperti apa yang tengah kudera. Hanya aku, dan Gusti Allah yang Maha Tahu.


Sampun dalu
Bisikku padamu
Yang belakangan selalu kurindu
Padahal engkau pinarak di hatiku

          Sekali lagi kurajuk ia untuk segera menyudahi malam. Sedikit paksaan dengan mematikan lampu di teras depan. Berharap ia sadar kalau hari memang telah larut malam.
          “Belum terlalu malam, Timur. Saya masih ingin berbincang denganmu. Tentang sajak-sajak, tentang sosial, politik, budaya, filosofi, atau apapun itu. Bisa kita mulai dari mana?”
          Rasa kantuk telah mengakar di pelupuk mataku. Pikirku, ia telah lelah usai berdebat denganku tentang pemerintah yang hanya memikirkan kesenangannya sendiri melalui pembangunan lapangan golf. Sepertinya, ia masih ingin berbincang-bincang denganku mengenai masyarakat jawa yang semakin hari semakin melupakan akar budayanya. Namun, sungguh hari terlalu malam buatku. Esok masih banyak agenda yang berjejalan panjang yang perlu dituntaskan. Lebih baik diskusi-diskusi panjang dengannya dilanjutkan lain waktu saja, sergahku rasional.
***

          “Sungguh sampun dalu,” kubisikan kata-kata itu ke telingamu. Tapi, kali ini dengan kondisi yang berbeda. Ia tidak lagi mengajakku berbincang tentang berbagai soal. Profesor Emeritus itu hanya diam. Tidak bergerak. Apakah ia marah karena ajakan diskusinya kala itu tak kuindahkan? Dan aku mulai merasa bersalah meninggalkannya begitu saja. Tidak setia menjadi rekan bicara, dan membiarkannya memikirkan segala sesuatu tentang negeri ini sendirian. Membiarkannya memikirkan nasib rakyat-rakyat miskin yang semakin tersisihkan. Sedangkan aku, memilih untuk terpejam.
          Ia masih terbujur kaku tak berdaya. Aku kurang begitu paham penyebabnya. Yang kutahu, berbagai surat kabar menuliskan kalau ia tengah koma. Kata dokter, ia terserang stroke. Beranjak dari keprihatinanku, maka kuputuskan untuk menjaganya hingga ia tertidur nanti. Namun, kali ini aku semakin peka. Mengajaknya untuk segera terlelap bukan pilihan terbaik untuk saat ini. Matanya masih menatap langit-langit kamar rumah sakit. Tentu ia masih ingin mendengarkan ceritaku tentang tindakan-tindakan amoral pemerintah, kondisi perpolitikan yang semakin kacau, ataupun budaya kejawen yang semakin tersisih.
          Ganti babak. Kukisahkan padamu tentang program transmigrasi, seperti yang dulu pernah kita bahas di emperan rumahku. Bahwa pemerintah hanya bernapsu memindahkan penduduk ke luar jawa untuk mengurangi kepadatan, tanpa memperhatikan nasib-nasib mereka setelahnya. Pada plot cerita ini, aku hanya mengulangi ulasanmu dulu terkait kekurangpekaan pemerintah dalam mengayomi rakyat. Tanpa aba-aba, matanya akan langsung bercucuran air mendengar narasiku. Nanar.
        “Sungguh sampun dalu,” kalimat pungkasan dariku muncul kembali. Lidah telah kelu bercerita panjang-lebar sejak sore tadi. Keningnya lekas kucium dan kuucapkan selamat malam. Anehnya, kali ini terlihat ia menuruti ajakanku. Dipejamkan matanya perlahan-lahan. Urat-uratnya nampak mengendur. Napasnya mulai teratur. Segera saja kurebahkan tubuh di bawah kolong tempat tidurnya.
          Suara perputaran jarum jam makin jelas terdengar, menjadi saksi bisu kesunyian malam. Pula dengan lukisan-lukisan markaban yang terpampang di sudut kamar, semakin nampak membiru dengan temaram lampu pijar. Membuat siapa saja yang memandangnya tak akan mampu bertahan lama, dan akan segera memilih menutup mata lekas-lekas. Sajak-sajak karanganmu mulai rebahan di dadaku. Lamat-lamat kulantunkan seolah kidung penolak bala. Agar kau tahu, bahkan kecintaanku padamu telah sampai pada ingatanku pada tiap larik syair-syairmu.

Sungguh sampun dalu
Bahkan tiktak jam telah pula membisu
Semua lukisan markaban membiru
Dan sajak-sajak mulai rebahan di dadaku.

***

          Sejak pesakitanmu, aku selalu bergantian dengan isterimu menjagamu. Berada di dekatmu membuatku tenang. Justru, kecemasan selalu mengurungku manakala tak kutemui ragamu kurang dari dua puluh empat jam. Ketakutan kehilanganmu, terasa lebih kuat daripada kesiapanku menjemput ajal. Aku ingat betul, di kamarku, kamar yang menjadi saksi bisu diskusi-diskusi panjang kita berdua, berulang-ulang kali bayanganmu membangunku dalam mimpi-mimpi buruk. Gelagapan mencarimu, tapi yang kudapati hanyalah guling dan sarung yang terlipat rapi, yang sengaja kau tinggal di kamarku. Ini laksana jantung yang terus berdetak tak beraturan mencemaskanmu.
          Bukan hanya aku. Semoga saja benar begitu. Kulihat dunia luar sana, melalui koran-koran, televisi, internet, sampai radio-radio pun menyiarkan kabarmu. Pewarta-pewarta berita berlomba-lomba menuliskan kisahmu dan menanyakan kondisimu. Pun demikian segenap hati yang merindukan sosokmu saat berbicara lantang di atas podium, di seminar-seminar dan di atas sajak-sajak. Mereka mencari sorot matamu yang teguh pada kebenaran. Dan ketika mereka telah menemukanmu, sekonyong-konyong dilepaskannya segala sendu merindu. Telinga mereka mendengung, menantikan kembali suara nyaring nan mantap dari penyair berjuluk Sang Burung Perkutut itu.

Dari kamarku
Ialah jantung yang sungguh ungu
Kulihat dunia luar di sana mencari mripatmu
Dan ketika ketemu ia klotok segala sendu

Dari ruang tamu rumah kontrakanku
Ialah ilat sewarna kembang sepatu
Percakapan-percakapan kami tentangmu
Sewajah sorga yang dicrita kitab suciku

Aku
Kami dan kamu
Bukan bunga paru
Yang gampang layu

          Menunggu kau sembuh, kukumpulkan orang-orang yang merindukanmu itu di ruang tamu rumah kontrakanku. Kita berbincang-bincang mengenang lakon hidupmu. Dengan lidah kelu dan wajah tertunduk lesu mengingat pergerakanmu. Percakapan-percakapan kami tentangmu, tidak jauh-jauh dari pemikiran yang kau tularkan pada kami semasa dulu. Dalam suatu segmen, kami duduk melingkar dan membacakan sajak-sajakmu. Kemudian, sampai pada pemahaman kata demi kata. Dengan begitu, tidak akan sulit bagi kami menemui petuah tentang keadilan, tepo sliro, adat ketimuran, dan segala perbuatan beradab lainnya. Semua itu seolah-olah bercermin pada kitab suci, yang selalu mengingatkan manusia pada jalan kebaikan agar mampu menapaki surga.
          Aku, kami dan kamu berusaha menuju alur pemikiran linier. Dan kita telah sepakat untuk meneruskan perjuanganmu. Bergerak melawan segala ketidakadilan, kerusakan, dan segala bentuk kenistaan melalui kemampuan kita masing-masing. Tekad telah satu bulat bahwa kita bukan bunga paru yang gampang layu. Tidak kendur termakan umur dan tidak mundur terpanah busur. Terus mengembang, semerbak mewangi, dan menumbuhkan cikal-cikal bunga baru yang kelak meneruskan langkah-langkah ini. Hingga semuanya nampak jelas membuat kami tersadar saat mencuci muka: bahwa mimpi itu bukan sama dengan kenyataan. Kami hanya segolongan yang amat sangat sedikit. Minoritas. Tragis.

***

          Lagi-lagi masalah adalah ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan. Tak dapat dipungkiri, benih-benih yang digadang-gadang itu hanya sedikit yang tumbuh. Sekalipun ada, beberapa di antaranya menjelma menjadi kelas dua. Bukan bibit unggul seperti yang kami harapkan. Yang lebih satire, bibit-bibit itu memilih mewujudkan diri menjadi benalu. Dan beberapa induk semang justru memilih murtad dari alur seyogyanya. Mereka yang dulu menggadang-gadang, malah sekarang ikut-ikutan menendang-nendang. Lalu, siapa gerangan yang akan melanjutkan perjuanganmu?
          Giliran pertanyaan itu yang menggelanyuti pikiranku malam ini. Seketika itu juga membuang kantukku jauh-jauh. Tapi, kau masih terbaring di ranjang pesakitan. Seperti orang tidur. Sangat tidak etis jika kugoyang-goyangkan tubuhmu untuk membangunkanmu, lalu bertanya kepadamu: siapa gerangan yang akan melanjutkan perjuanganmu? Tidak. Tidak. Tidak demikian. Aku yakin suatu saat ia akan bangun sendiri dan melangkah mencariku, untuk kembali mengajakku berdiskusi tentang apa saja. Dari sini, mulai kusadari bahwa memikirkan sesuatu hal gigantis secara sendirian itu sangat menguras pikiran. Saat kuabaikan ajakanmu membicarakan beberapa hal-hal besar itu, tentu energimu akan terkuras lebih cepat, dibandingkan bila ada imbuhan mulut dariku.
          Kini, mencari kawan sepertimu selayak mencari jarum dalam tumpukan jerami. Semakin malam, bisikan iblis semakin menderu menawarkan diri sebagai penggantimu. Mengajukan permohonan kepadaku, serta berjanji kelak menjadi teman diskusi yang menyenangkan. Kemudian, tentu ia menyuruhku meninggalkan semua ajaran yang kau wariskan padaku. Duh, untung saja rayuannya tak serta merta kumakan mentah-mentah. Sajak-sajak karanganmu sekonyong-konyong menyelamatkanku dari segala macam marabahaya. Senandungnya melantungkan tembang penolak bala.
          Maka, aku pun tak perlu memutuskan diri bersekutu dengan setan. Biarkan saja bibit-bibit itu memilih nasib menjadi kelas dua, benalu, atau petuanya memutuskan murtad sekalipun. Yang terpenting, aku tidak menjadi bagian dari mereka. Karena akulah yang akan melanjutkan perjuanganmu, bersama orang-orang yang masih dibelakangmu. Kami akan memilih berlindung pada Gusti Allah, seperti yang selalu kau dengungkan ke telingaku, telinga kami, dan telingamu sendiri. Pada Dzat Yang Maha Tunggal kami sepenuhnya menaruh kepercayaan dan kebaktian.
         Dan kepada-Nya pula, kami akan selalu mendoakan kesembuhanmu. Loyal menunggu kebangkitanmu, dan selalu berada di jalan lurus seperti dalam sajak-sajakmu. Untukmu. Teman diskusiku yang selalu menyenangkan. Teman bersajak yang selalu bijak. Guruku. Darmanto Jatman.

Ah, sakmenika sampun dalu
Aku memilih ikut menjadi bersamamu
: Eling, Pracaya,
Mituhu mring Gusti

-----000-----


*) nb: Tulisan ini boleh dikatakan sejenis parafrase, perubahan puisi menjadi prosa. Puisi diambil dari karya Timur Sinar Suprabana berjudul “Sampun Dalu”, yang terkumpul dalam antologi puisi “langitSemarang” terbitan Taman Budaya Jawa Tengah bekerja sama dengan Pondok Budaya GubugPenceng Semarang. Konon, puisi ini dipersembahkan untuk penyair Darmanto Jatman, yang dikenal dengan julukan Sang Burung Perkutut. Pencantuman puisi di sela-sela prosa sekedar ditujukan untuk menegaskan bahwa kalimat-kalimat dari prosa diintepretasikan dari puisi tersebut. Karena merupakan intepretasi, maka pemaknaan yang penulis pahami boleh jadi berbeda dengan yang dimaksud penulis puisi yang bersangkutan. Namun, tidak ada salahnya menikmati parafrase yang disajikan dari sudut pandang berbeda ini. Semacam apresiasi puisi, demikian kata yang tepat menggambarkan tulisan di atas. Selamat menikmati.

Johan Bhimo Sukoco
*) gambar diambil darisini. 

Selasa, 23 Februari 2016

Program Pelatihan sebagai Strategi dalam Manajemen SDM


         Penyelenggaraan pelayanan publik sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Di dalam Bab 1 Pasal 1, dikatakan bahwa pelayanan publik  adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk, atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggaraan pelayanan publik. Beranjak dari definisi pelayanan publik tersebut, maka setiap organisasi penyelenggara pelayanan publik diharapkan melayani kebutuhan warga negara dengan baik sebagaimana providers melayani customers. 

Namun demikian, pada kenyataannya beberapa sektor publik masih belum optimal dalam melakukan pelayanan. Berdasarkan data yang dilansir Ombudsman pada tahun 2011 lalu, terdapat 5.800 laporan pengaduan masyarakat dari 33 provinsi terkait pelayanan publik. Pengaduan paling banyak ialah di tingkat pemerintah daerah (pemda), yaitu 671 pengaduan. Posisi berikutnya yaitu instansi kepolisian (325 pengaduan), pengadilan (178 pengaduan), Badan Pertanahan Nasional (165 pengaduan), dan BUMN/BUMD (106 pengaduan). Dari data Ombudsman ini, substansi mal-administrasi meliputi : penundaan berlarut (41,99 %), penyalahgunaan wewenang (17,57 %), berpihak (6,80 %), tidak memberikan pelayanan (8,09 %), penyimpangan prosedur (8,68 %), permintaan uang, barang, dan jasa (7,45 %), tidak kompeten (4,98), tidak patut (2,84 %), diskriminasi (1,45 %), dan konflik kepentingan (0,16 %). 

Beranjak dari data tersebut, maka dirasa perlu pengkajian terkait Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor publik. Perlu digaris bawahi bahwa permasalahan yang muncul terkait pelayanan publik ini bersumber dari pelaksana pelayanan, dalam artian hal ini terkait dengan kualitas SDM yang tersedia. Dapat dikatakan kompetensi dan profesionalitas seorang pelayan publik akan mempengaruhi kualitas pelayanan publik yang diberikan. Terkait hal ini, maka program pendidikan dan pelatihan (diklat) dirasa sangat vital diakomodir sebagai pendekatan yang nyata dalam peningkatan kualitas pelayan publik. 

Melalui program pelatihan, pelayan publik akan dibekali hardskill maupun softskill yang mana hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kompetensi mereka. Wiele (2010), dalam penelitiannya yang mengkaji praktik human resources management di Belgia, menyatakan bahwa secara signifikan, program diklat, partisipasi, dan insentif sangat memiliki pengaruh yang kuat dalam peningkatan kinerja karyawan. Penelitian yang dilakukan Wiele ini mengambil sampel lebih dari 10.000 company di Belgia. Wiele melalui penelitiannya ini menyimpulkan “….in this era of knowledge and information, continuous education and training of workers and employees is no longer an option but a must for most firms”. Jadi, dapat digaris bawahi bahwa pendidikan dan pelatihan berkelanjutan bukan lagi menjadi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan.

Senada dengan Wiele, Cankovic (2013), melalui penelitiannya terkait human resources management di Bosnia dan Harzegovina, menyatakan bahwa kualitas dan kuantitas program pelatihan berhubungan positif dengan kinerja organisasi. Cankovic (2013) menyatakan bahwa ”…..in  the  context  of  systematized  challenges  of  doing modern business, is to determine the importance of a strategic approach to development and the need to link employee development with business strategy…” Penelitian yang mengambil sampel 250 perusahaan di Banjar Luka ini menemukan hasil bahwa pengembangan karyawan melalui program pelatihan dapat dikaitkan dengan strategi bisnis perusahaan.

Beranjak dari penelitian yang dilakukan Wiele (2010) dan Cankovic (2013) tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa program pelatihan sangat vital dibutuhkan dalam sebuah organisasi untuk meningkatkan kinerja pegawai. Oleh karena itu, setiap organisasi publik perlu menggunakan pendekatan pelatihan ini dalam rangka meningkatkan kinerja pegawai. Dengan demikian, hal ini diharapkan berdampak positif pada pelayanan publik yang akan meningkat kualitasnya, dan di sisi lain kinerja organisasi juga akan dinilai baik oleh masyarakat sebagai customers. 

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirto Negoro Kabupaten Sragen, sebagai salah satu BUMD penyelenggara pelayanan publik di Kabupaten Sragen telah menempatkan pendekatan program pelatihan ini sebagai strategi dalam human resources management. Hal ini dapat dilihat dalam Program Kerja Non Teknik, dimana beberapa poin diantaranya, antara lain menyinggung mengenai pengadaan pelatihan dan pendidikan, serta menempatkan karyawan sesuai dengan kemampuannya (right man on the right place). Perhatian corporate ini terkait pengelolaan SDM ditandai pula dengan perumusan nilai inti perusahaan, dimana beberapa poin diantaranya memfokuskan pada manajemen SDM, yaitu : menjunjung tinggi prestasi dan dedikasi karyawan berbasis kompetensi kreativitas, intelektualitas, loyalitas melalui kompetisi yang terarah, dan menyadari sepenuhnya bahwa SDM merupakan assets utama perusahaan yang harus dikelola secara berkesinambungan. 

Seperti yang termuat dalam “Pers Release Dwi Warsa Direksi PDAM Sragen (2011-2013) – Perubahan”, dikatakan bahwa perubahan internal PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen dimulai sejak konsolidasi SDM dan re-coding dari DNA birokrat menjadi DNA corporate yang sangat penting bagi sebuah perusahaan pelayanan publik yang handal dan professional. Lebih lanjut, dalam “Ringkasan Capaian 2 (dua) Tahun Direksi PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen”, pada Bidang Umum, menunjukkan bahwa Divisi SDM telah konsekuen menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sebanyak 15 kali. Pelatihan dilakukan bekerjasama dengan institusi terkait, semisal Balai Teknik Air Minum dan Sanitasi Wilayah II Direktorat Jenderal Cipta Karya - Kementerian Pekerjaan Umum, PERPAMSI (Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia), MarkPlus Institute, dan penyelenggara pengembangan SDM lainnya, serta in house training yang secara rutin dilakukan internal perusahaan. 

Beranjak dari uraian tersebut, dapat disimpulkan PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen telah menempatkan program pelatihan sebagai strategi dalam human resources management. Hal ini terlihat dari penempatan program pendidikan dan pelatihan pada poin pertama dalam Program Kerja Non Teknik, perumusan nilai inti perusahaan yang mengarah pada peningkatan kualitas SDM, serta capaian dua tahun terakhir Direksi yang berhasil menyelenggarakan diklat sebanyak 15 kali, menunjukkan bahwa PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen sangat konsen dan serius terhadap persoalan SDM. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen telah memahami benar serta menerapkan pendekatan human resources management dalam melakukan pengelolaan SDM di perusahaannya.  

Kedepannya, diharapkan pengelolaan SDM di PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen ini semakin ditingkatkan agar kualitas pelayanan publik yang diberikan semakin baik. Dengan demikian, diharapkan amanah yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dapat dilaksanakan dengan baik, terutama dalam Pasal 15 yang merumuskan bahwa penyelenggara pelayanan publik berkewajiban menempatkan pelaksana yang kompeten dan memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas penyelenggaraan pelayanan publik. Penekanan program pelatihan sebagai strategi human resources management di PDAM Tirto Negoro Kabupaten Sragen ini diharapkan akan mampu menguatkan implementasi Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik tersebut. Di sisi lain, tentu saja diharapkan masing-masing karyawan mampu menerapkan semboyan BEST (BErikan Service Terbaik) seperti yang didengungkan di perusahaan berbasis air minum tersebut dalam pelayanan publik yang diberikan.  

Johan Bhimo Sukoco
*) gambar diambil darisini. 

Sabtu, 30 Januari 2016

Mentalitas ala HERO

Artikel ini merupakan hasil kajian penulis yang didapat melalui seminar bertema besar “On Becoming A Sales HERO”. Sebuah seminar terkait pengembangan karakter seorang sales & marketing yang diselenggarakan MarkPlus Institute. Seminar yang diselenggarakan pada tanggal 6 Desember 2013 ini dipandu oleh Bayu Asmara, Chief Executive MarkPlus Institute. Penulis berkesempatan langsung mengikuti seminar yang diselenggarakan di The Sunan Hotel Solo ini.

Pada dasarnya terdapat 4 (empat) macam capital/modal, yaitu: economic capital, human capital, social capital, dan psychological capital. Economic capital, meliputi uang, mobil, kendaraan, tanah, dan lain sebagainya. Human capital, meliputi pengalaman, pendidikan, keterampilan, dan ide. Social capital, meliputi saudara, jaringan, dan teman. Sementara psychological capital, meliputi Hope (harapan), Efficacy (kepercayadirian), Resiliency (kemampuan bertahan), dan Optimism (optimis). Konten ini lebih menitikberatkan pada psychological capital ini. Seperti dikatakan dalam penelitian Luthans, Fred, Carolyn M Youssef, Bruce J. Avolio (2007), bahwa factor pembentuk sikap positif, 50 % factor genetic,10 % kondisi eksternal, dan 40 % sikap yang kita pilih (merupakan area yang bias kita ubah dan kita pengaruhi, dinamakan psychological capital). Luthans, Fred, Carolyn M Youssef, Bruce J. Avolio (2007) menyebutkan keberhasilan seseorang ditentukan oleh 4 (empat) sifat, yaitu: Hope, Efficacy, Resiliency, dan Optimism (yang kemudian disingkat HERO). Di bawah ini akan dibahas masing-masing factor tersebut disertai contoh kasusnya.

Hope. Yaitu harapan atau keinginan yang kuat untuk berhasil. Menurut C. Rick Snyder (1991), “hope” adalah kondisi mental positif yang muncul karena perasaan berhasil dalam (1) mengarahkan energy untuk mencapai suatu tujuan, dan, (2) menciptakan rencana untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi, dalam “hope” ini, perlu diarahkan pada “will-power” (keinginan untuk berhasil, dan “way-power” (strategi untuk mencapainya). Contoh kasusnya ialah, Merry Riana, dimana ia memiliki mimpi menghasilkan $ 1.000.000 pada usia 26 tahun. Merry Riana dalam hal ini tidak hanya bertopang dagu untuk mewujudkan mimpinya, melainkan ia berusaha keras  mencari jalan dengan meminjam dana beasiswa dari Bank Pemerintah Singapura sebesar $ 40.000 dan bekerja keras serta setelah menamatkan pendidikan ia memulai usaha penjualan di bidang jasa keuangan. Pada akhirnya, Merry Riana mampu mewujudkan mimpinya di usia 26 tahun, dengan kemapanan financial $1.000.000.

Efficacy. Yaitu kepercayadirian. Menurut Stajkovic & Luthan (1998), efficacy adalah keyakinan seseorang akan kemampuan dirinya dalam menciptakan motivasi, mengumpulkan sumber daya mental, dan menjalankan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk melaksanakan suatu tugas spesifik. Perlu disadari, bahwa efficacy ini dipengaruhi juga oleh orang lain dan latihan atau kemahiran. Contoh kasusnya, ialah Joe Kamdani. Ia adalah founder and chairman PT Datascript. Sebelumnya, ia mengawali karir sebagai salesman lepas alat tulis kantor. Dengan kepercayaan diri yang terbangun, Joe Kamdani mendirikan usaha PD Matahari (1969) yang kemudian bermetamorfosis menjadi PT Datascrip. Krisis ekonomi tahun 1997-1998 membuat perusahaannya sempat berfikir hanya sanggup bertahan dan nyaris tanpa keuntungan. Namun, pada akhirnya, perusahaan ini berhasil melewati krisis dengan baik. Menurut Joe Kamdani, tips nomor wahid bagi seorang sales, ialah melahirkan kepercayaan dalam tindakan maupun ucapan.

Resiliency. Yaitu ketahanan diri. Menurut Masten, Reed, Luthan, Avolio dan Youssef, Resiliency adalah kemampuan untuk bangkit kembali dari kesulitan, konflik, atau kegagalan. Dapat kita pelajari istilah “bouncing back and beyond” (bangun dan kembali bangkit). Adapun karakter orang yang mampu bangkit dari kegagalan ialah (1) tahan banting, dan (2) memiliki mental yang tangguh. Contoh kasusnya, ialah Colonel Sanders (KFC). Sanders pernah mendatangi lebih dari 1.000 restoran untuk menawarkan resep masakan KFC-nya dan berkali-kali ia mengalami penolakan. Namun demikian, dengan sikap tahan banting, pada akhirnya ia berhasil sukses dengan resep masakan ala  KFC-nya  sampai dengan abad sekarang. Lalu, banyangkan saja apa yang terjadi jika Sanders berhenti dan menyerah di restoran ke 100 ?

Optimism. Yaitu positif memandang masa depan. Menurut Martin Seligman (1998), optimism adalah cara berfikir yang menghubungkan kejadian-kejadian positif dengan sebab yang bersifat personal, permanen, dan terus menerus, namun menghubungkan kejadian negative dengan sebab yang eksternal, sementara, dan spesifik. Ada 3 (tiga) tips untuk meningkatkan optimism ini, yaitu:  (1) memperingati masa lalu; (2) merayakan masa kini, dan (3) bangun masa depan. Contoh kasusnya, Irwan Hidayat. Ia adalah Presiden Direktur PT Sido Muncul. Awal perjuangan di tahun 1970 ia bekerja keras membangun konsep pemasaran dengan membentuk team sales, mengingat pada saat itu belum ada pihak distributor yang mendistribusikan produk-produknya. Irwan Hidayat membangun team sendiri dan mengawalinya dari Surabaya dan Jakarta. Pada awalnya memang pahit, misalnya produk belum ada yang sanggup terjual. Namun,  dengan sikap optimis, akhirnya Irwan Hidayat mampu membuktikan bahwa pemasaran merupakan ujung tombak perusahaannya.

Sebagai penutup dari artikel ini, penulis mengingatkan kembali pentingnya psychological capital dalam pengembangan diri, khususnya dalam meningkatkan kinerja pada bidang sales & marketing. Sebagai agen pemasaran, kita perlu menempa diri dengan prinsip-prinsip HERO seperti yang telah diuraikan di atas. Hope. Efficacy. Resiliency. Optimism. Siapkah kita menempa diri menjadi sales bermental HERO?

Johan Bhimo Sukoco
*) gambar diambil darisini

Minggu, 01 Maret 2015

Sisir



Sisir. Piranti yang berfungsi merapikan rambut, mungkin benar demikian jika ditelaah definisinya secara harafiah. Sisir bukan barang awam lagi bagi kaum hawa maupun adam. Beberapa orang mungkin menyisir rambutnya dua kali sehari, setelah mandi di pagi dan sore hari. Sebagian lainnya melakukannya lebih dari itu. Tidak ada standar patokan berapa kali idealnya kita harus menyisir rambut. Saya sendiri sudah beberapa tahun tidak pernah menggunakan alat ini. Semenjak saya memilih model rambut tipis setengah sentimeter ala militer, otomatis saya semakin asing dengan sisir. 

Menyisir sejarah sisir, alat ini telah digunakan manusia sejak 5000 tahun lalu. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya sisir berbahan emas yang dibuat pada tahun 400 SM. Sisir ini merupakan peninggalan bangsa Scythian, yang hidup di kawasan Asia Tengah. Berbeda dengan sisir pada masa sekarang yang kebanyakan terbuat dari plastik, pada zaman dahulu sisir terbuat dari tulang, kayu, aneka logam, gading gajah, tanduk, sampai tempurung kura-kura. 

Andai saja sengkarut permasalahan kehidupan dapat dirapikan dengan sisir, maka saya yakin setiap orang akan berlomba-lomba menyisir rambutnya serapi mungkin. Namun, sayangnya sisir hanya berfungsi merapikan rambut. Alat ini tidak didesain memiliki kemampuan merubah jenis rambut, yang sama artinya sisir tidak dirancang sedemikian rupa untuk merubah nasib. Kita membutuhkan sisir untuk merapikan rambut, bukan untuk meluruskan silang sengkarut hidup. Tapi, mungkin saja tips satu ini layak dicoba: gerakkan sisirmu dengan lembut, seraya kau tutup kedua matamu. Hayati setiap sentuhan sisir yang mendarat di rambutmu. Bayangkan, seolah-olah semua masalah pelan-pelan akan kembali ke jalan yang semestinya. Ambil nafas, tahan sebentar, dan hembuskan pelan-pelan.Kalaupun masalah tak kunjung menjauhimu, setidaknya ketenangan hati akan kau dapatkan barang sebentar. 

Setiap masalah pasti hadir sepaket dengan solusinya, demikian ujar seorang teman. Saya meyakini ini dengan baik, serupa saya meyakini jika masing-masing jenis rambut juga telah disediakan jenis sisir yang sesuai. Sisir bergerigi jarang telah disediakan untuk jenis rambut ikal dan keriting, sedangkan sisir bergerigi rapat disediakan untuk rambut lurus. Serupa dengan masalah, ia telah hadir bersama dengan solusinya. Tugas kita selanjutnya adalah menemukan solusi terbaik dari yang ribuan solusi yang telah disediakan Tuhan. Mari kita sisir pelan-pelan masalah demi masalah yang membelenggu kita dengan seperangkat solusi terbaik yang kita miliki. Bukan dengan sisir tentunya.

Johan Bhimo Sukoco
*) gambar diambil darisini