Rabu, 21 Desember 2016

Pulang ke Rahim Ibu



Ada kalanya seseorang ingin kembali ke masa lampau, tempat dimana ia mengenang sesuatu dan memeluknya dalam kenangan. Ibu, adalah kenangan terindah dalam catatan perjalanan kehidupan yang diberikan Tuhan padaku. Perjalanan hidup ibu yang penuh liku, memberikan banyak pembelajaran kepada saya tanpa perlu banyak yang harus ia katakan. Ibu diriwayatkan meninggal dalam gagal ginjal dengan segenap komplikasi semacam diabetes dan hipertensi. Ia adalah perempuan tangguh yang dilahirkan pada 23 Desember 1960 lalu dan ia pun harus kembali ke haribahan Sang Pencipta pada 30 Maret 2015 lalu.

Sih Handayani, nama ibuku, ia adalah seorang ahli dzikir yang saya kenal tak pernah lelah dalam memuji nama Tuhannya. Ia tak pernah meninggalkan dzikir di setiap aktivitas yang dilakukannya, semacam saat menjelang tidur, istirahat, di dalam kendaraan, atau dalam perjalanan. Hal yang saya ingat dengan baik ialah saat ia dalam kondisi setengah sadar di sebuah rumah sakit. Saat itu, dikarenakan kondisi kesadaran beliau yang tidak terkontrol, maka dokter memutuskan memberikan suntikan obat penenang. Dalam kondisi setengah sadar ini, beliau masih mengingat kebesaran Alloh dengan terus menerus melantunkan ayat-ayat suci Al Quran, dimana salah satu surat yang dilantunkannya yang mampu menggetarkan hati saya ialah Surat Al ‘Ashr. Ibu terus menerus melantunkan Surat Al ‘Ashr. “Demi masa. Sungguh manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Q.S. Al ‘Ashr :1-3)

Sih Handayani, S.Pd.I, demikian nama lengkapnya dengan gelar Sarjana Pendidikan Islam dari IAIN Surakarta. Selama hidupnya, Ibu merupakan seorang guru pendidikan agama islam di sebuah sekolah negeri, tepatnya di SD Negeri 4 Sragen. Ia yang mengajarkan anak-anak sekolah dasar baca tulis Al Quran, pemahaman akidah, dan segenap ilmu-ilmu yang akan membawa mereka pada pemahaman iman dan islam. Insya Alloh, semua ikhtiar yang dilakukan selama hidupnya ini dapat menjadi amal jariyah yang tidak akan ada putusnya. Suatu ketika, beberapa minggu sebelum Ibu meninggal, beliau dengan penuh kegundahan menyatakan keinginannya mundur atau pensiun dini sebagai seorang guru PNS. Ia mengutarakan hal ini mengingat sakit yang beliau derita selama berbulan-bulan membuatnya harus meninggalkan murid-muridnya di sekolah, dan ia merasa kasihan dengan murid-muridnya jika menunggunya terlalu lama meskipun tentu saja sudah ada guru pengganti sementara, Ia mengutarakan niatannya itu pada suatu pagi, yang kemudian saya ketahui bahwa itu adalah sebuah pesan darinya tentang kematian.

Merawat Ibu sampai akhir hayatnya ialah kebanggaan tersendiri bagi saya. Setiap pagi saya meracik obat-obatan untuknya, mempersiapkan makan untuknya yang kau tahu pasien dengan komplikasi penyakit ginjal, diabetes dan hipertensi tentu tidak sembarangan mengkonsumsi makanan. Yang saya ingat, untuk pasien diabetes perlu dihindari makanan yang manis-manis, untuk pasien gagal ginjal perlu mengurangi makanan yang berprotein (diet protein) dan untuk hipertensi perlu dihindari makanan yang terlampau asin. Kumpulan leafet menu diet dari ahli gizi selalu menemani pencarianku dalam menyediakan menu terbaik untuk Ibu. Suatu ketika, saya perlu menyingkirkan beberapa makanan yang tidak boleh beliau konsumsi dalam satu masakan. Semisal sayur buncis yang dicampur dengan irisan tahu atau tempe, maka saya akan memisahkan buncis tersebut dari irisan tahu atau tempe, karena dokter melarang Ibu mengkonsumsi protein dari tahu atau tempe ini. Atau ketika saya dengan segenap kepercaya-dirian membawa sebotol minyak goreng sendiri ke penjual capjay. Di lain cerita, pernah suatu malam, Ibu meminta menu sederhana “bothok mlanding”, dan saya dengan penuh semangat mengintari malam di sepanjang jalanan untuk menemukan makanan tersebut. Kebahagiaan akan saya dapatkan saat makanan yang diminta ibu dapat saya temukan dan beliau memakannya dengan lahap. Kebahagiaan yang sulit dituliskan dalam ejaan huruf sekalipun.

Mengenang Ibu, adalah menyirami segenap memori saat beliau memberikan wejangan tentang hidup. Salah satu yang saya ingat ialah tentang larangan membentak perempuan di depan orang banyak. Ibu adalah perempuan berhati lembut yang seringkali menangis setiap kali Bapak membentaknya di depan kerumunan orang banyak. Ia akan pulang ke rumah dengan air mata penuh luka dan ia akan mengobatinya dengan doa dan kesabaran. Nasihat ibu tentang larangan membentak perempuan di depan khalayak ramai ini masih terngiang di telinga saya. Semoga dapat saya jaga amanah ibu ini.

Sepanjang tahun 2014 dan 2015 ialah tahun kesedihan bagi saya. Ibu berkali-kali masuk rumah sakit, dan dalam tenggang dua waktu ibu koma, sampai akhirnya meninggal. Semua berawal pada tahun 2014 lalu, ibu dengan tegar mempersiapkan keperluannya sendiri untuk opname di rumah sakit. Saya ingat saat itu ialah hari Minggu, dimana saya harus lembur bekerja ke daerah pedesaan mengantar tamu untuk keperluan survey pekerjaan kantor. Paginya, ibu masih sehat, seperti biasa ia memasak dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Malam harinya, saya kaget saat Bapak memberi kabar bahwa Ibu masuk rumah sakit, opname. Ibu yang meminta Bapak untuk mengantar ke rumah sakit karena beliau merasa badannya tidak enak. Ini adalah untuk pertama kalinya Ibu harus opname di rumah sakit. Sepulang dari lembur, saya langsung bergegas menemani Ibu bermalam di rumah sakit. Sepanjang malam itu ibu gelisah dan kondisi kesehatannya terus menurun. Gula darah yang biasanya tinggi, entah kenapa pada saat itu menurun drastis. Hingga pagi harinya, kondisi kesehatan ibu terus menurun dan mengakibatkannya koma, dimana ia harus dilarikan ke rumah sakit lainnya untuk mendapatkan perawatan intensif. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit swasta di Sragen, akhirnya kami memutuskan membawanya ke rumah sakit di Solo untuk mendapatkan perawatan yang lebih memadai fasilitas medisnya. Ibu koma kurang lebih tiga minggu. Dokter mengatakan Ibu terkena stroke ringan.

Pada minggu ketiga, perlahan Ibu mulai sadar, dan kemudian seiring perjalanan waktu Ibu diperbolehkan untuk rawat jalan di rumah. Di rumah, Ibu dengan penuh semangat menjaga kesehatan, mulai berlatih untuk jalan, dan melakukan hal-hal lain untuk menunjang pemulihannya. Ibu mulai kembali membaca mushaf Al Quran setelah berbulan-bulan ia berhalangan untuk membacanya dikarenakan terbaring di bangsal rumah sakit. Ibu dengan semangat memberitahukan hal ini pada saya bahwa ia masih dapat membaca dengan lancar, meskipun awalnya terbata-bata. Ia pun dengan keinginan yang kuat memutuskan kembali mengajar di awal tahun ajaran baru. Beliau kembali mengajar di sekolah, meskipun belum penuh waktu, selama berkisar dua minggu. Kemudian, beliau akhirnya harus kembali ke pelukan sakitnya itu dan mulai awal tahun 2015 beliau harus bolak-balik di rawat di rumah sakit, karena kondisi ginjal beliau yang memburuk. Berkali-kali saya harus akrab dengan mobil ambulance dan kondisi rumah sakit.

Sejak awal tahun itu kondisi kesehatan Ibu terus menurun, hingga beliau kembali dalam kondisi koma. Hingga pada hari Senin, 30 Maret 2015 lalu, pada kisaran pukul 02.30 pagi beliau menghembuskan nafas terakhir. Sehari sebelumnya, perasaan dalam dada ini mulai gelisah entah ada semacam pesan apa yang hendak disampaikan Tuhan kepada saya. Bahkan saya sempat melarang Bapak saya untuk pulang ke rumah agar tetap menemani ibu di rumah sakit pada malam hari, karena saya hanya sendirian menjaga ibu bersama seorang Asisten Rumah Tangga. Namun, Bapak menolaknya dan memilih pulang ke rumah meninggalkan kegundahan saya. Dan pesan itu akhirnya terjawab, pada kisaran pukul 02.30 ketika saya hendak bangun untuk sholat tahajud dan berniat untuk bersahur puasa sunah, saya dibangunkan oleh Asisten Rumah Tangga saya dan ia mengabarkan kondisi ibu sedang kritis. Saya segera menghampiri Ibu yang tengah dalam kondisi buruk dengan penanganan dari dokter dan perawat yang beberapa kali melakukan tindakan medis. Dengan penuh perasaan yang berkecamuk, saya terus melantunkan dzikir dan berusaha membimbing beliau mengucapkan kalimat syahadat. Pada akhirnya, ibu menghembuskan nafas terakhir dan seketika itu dunia ini seakan-akan gelap bagi saya. Saya berlari menelpon keluarga dekat, segera sholat dan membacakan Surat Al Mukminun yang pernah saya janjikan dalam hati akan saya bacakan pada ibu sebagai hadiah kemukminan beliau selama hidupnya.

Selang satu minggu kepergian ibu, saya beserta Bapak mengunjungi kantor Ibu untuk bersilahturohmi dengan Kepala Sekolah dan segenap rekan-rekan kantor Ibu. Kami mewakili almarhumah menyampaikan permohonan maaf apabila selama hidupnya beliau memiliki khilaf. Selain itu, kami bermaksud menyelesaikan beberapa hal duniawi yang perlu diselesaikan oleh keluarga almarhumah. Tanpa disangka, Ibu Kepala Sekolah memberikan sekantong plastik berisikan baju kepada saya. Baju itu tidak lain ialah baju yang pernah saya berikan kepada almarhumah, dimana ternyata ibu memasukkannya ke penjahit untuk dikecilkan sesuai permintaan Ibu. Baju itu saya terima kembali dengan gemetaran. Seolah ini adalah sebuah pesan untuk saya, bahwa mulai saat itu ibu tidak perlu dihadiahi dengan beraneka macam baju, melainkan ia akan lebih membutuhkan hadiah berupa doa anak sholeh yang akan menjadi pelapang kuburnya.

Demikian sepenggal cerita tentang ibuku, dan sungguh ingin rasanya saya kembali pulang ke rahim ibu. Pulang ke sebuah tempat yang nyaman menemani Ibu tanpa harus ada sepenggal perpisahan. Dan saya yakin, Tuhan akan menyediakan waktu itu di Surga-Nya kelak, di sebuah tempat yang kekal bagi orang-orang mukmin. Insya Alloh. Hal yang bisa saya lakukan sepeninggal Ibu ialah berlaku selayaknya anak sholeh yang tiada hentinya mendoakan almarhumah ibu, dan menyambung tali silahturohmi dengan kerabat Ibu. Pengajian Ibu-ibu di kampung yang pernah ia besarkan dan pimpin selama hidupnya pun sampai sekarang dengan penuh ikhtiar tetap saya jalankan sebagai hadiah kubur bagi beliau. Dengan begitu, kepulangan saya di akhirat nanti akan disambut Ibu dengan pelukan dan senyum kehangatan. Selamat jalan Ibu, sampai bertemu dalam kepulangan anakmu ini ke Surga-Nya kelak.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. Al Fajr : 27-30).
  
Johan Bhimo Sukoco
*) Tulisan ini bersifat personal. Didedikasikan untuk merayakan 22 Desember sebagai Hari Ibu, dan mengenang hari lahir Ibu saya pada 23 Desember.
**) Foto merupakan dokumentasi pribadi.

Jumat, 16 Desember 2016

Di Bayanan Aku Memikirkanmu




Tidak seperti niatan kebanyakan orang saat mengunjungi Bayanan, aku justru kesana untuk memikirkanmu. Bukan rematik atau gatal-gatal yang hendak kusembuhkan, toh aku justru ingin penyakit itu terus bersemayam dalam tubuhku. Kau tahu kenapa? karena, dengan begitu akan selalu ada alasan bagiku menenggelamkan diri di kolam penghangatan ini.

Mojogedang, Batujamus, Kerjo, Sambirejo, hingga Sambi akan kulalui sekedar menjumpai bayanganmu. Aku tahu, diriku tak akan sanggup memenuhi semua inginmu yang tak terbataskan itu. Namun, pemilu tahun lalu telah membawa namaku memimpinmu. Ini tak ubahnya konsekuensi logis.

Di tempat ini, aku memikirkan tanyamu semalam, “Kita punya Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan, Bapak, kenapa saya masih miskin?”. Atau kalimat lain yang kau lontarkan,”Bapak yakin pelayanan satu pintu mampu mengurangi oknum pelaku mal administrasi?” Belum sempat kujawab, muncul kalimat lain, “Apa jika bapak menyebar kartu Sintawati alias Siswa Pintar Warga Sukowati itu anak-anak kita bisa sekolah gratis?”

Akulah Bupati yang terpilih kemarin dan pertanyaan-pertanyaan ini ialah makanan sehari-hariku. Kini, di pemandian air panas ini akan kuhangatkan tubuhku, agar esok mampu menjawab ribuan tanya darimu. Seraya berharap, relaksasiku hari ini mampu melepas jenuhku pada tanyamu, menurunkan kadar kolesterol dalam darahku, meningkatkan vitalitas, dan memulihkan kebugaran tubuhku, agar mampu menjawab semua kalimat tanya –yang tak habis-habisnya kau jejalkan dari mulut-mulut nyinyirmu.

Dan saat kuentaskan tubuhku dari kolam ini, kuyakin tubuhku telah menghangat. Bahkan, aku siap menghangatkan tubuhmu, duhai sayangku.

Johan Bhimo Sukoco
*) Sajak ini termuat dalam Buku Antologi Puisi 127 Penyair Dari Sragen Memandang Indonesia, yang diterbitkan Komite Sastra Dewan Kesenian Daerah Sragen (DKDS) & Forum Sastra Surakarta, 2012.
**) Gambar diambil darisini.

Kamis, 15 Desember 2016

Seminar Nasional Ketahanan Pangan di UNISRI Surakarta




Pada hari Sabtu, 3 November 2016 lalu saya menghadiri seminar nasional dengan tema Strategi Industri Pangan Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) Guna Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Seminar ini diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi dan Industri Pangan (FATIPA) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta. Seminar ini menghadirkan ketiga pembicara handal, yaitu : Prof. Dr. Ir. Rindit Pambayun, MP (Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan (PATPI)), Ir. Adhi S. Lukman (Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Dan Minuman Indonesia (GAPMMI)), dan Ir. Joko Mogoginta (CEO Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk –TPS Food).

Pada seminar ini, saya turut berpartisipasi sebagai presenter melalui paper riset saya yang berjudul Strategi Penguatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Pertanian dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan di Indonesia. Hal yang menarik dari seminar ini ialah berbagai pengetahuan terkait pangan, salah satunya disampaikan oleh Rektor UNISRI Surakarta, Prof. Dr. Ir. Kapti Rahayu Kuswanto, dalam sambutannya bahwa selama ini pola makan yang salah justru dapat menjadi sumber penyakit, sehingga perlu diperhatikan bahwa kita makan bukan sekedar memenuhi rasa lapar, melainkan pemenuhan gizi untuk kesehatan.

Pembicara pertama, Prof. Dr. Ir. Rindit Pambayun, MP yang merupakan Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan (PATPI), memberikan ulasan bahwa Indonesia memiliki keuntungan dari segi geografis dimana berada di garis khatulistiwa yang menyediakan sinar matahari yang mencukupi untuk proses fotosintesis tanaman pangan. Namun demikian, hal yang menjadi pertanyaan dan Pekerjaan Rumah (PR) terbesar adalah kenapa negara ini masih melakukan impor pangan dari negara lain?

Hal yang menarik dari ulasan Prof. Dr. Ir. Rindit Pambayun, MP ini ialah perihal masyarakat Indonesia yang lebih memilih mengkonsumsi beras yang benar-benar berwarna putih bersih dari kulit ari daripada beras yang masih mengandung kulit ari yang justru mengandung kumpulan bioaktif pangan yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Hal ini terlihat dari pemilihan beras di pasaran maupun saat mencuci beras di rumah yang dilakukan berkali-kali hingga sumber-sumber vitamin tersebut justru terbuang. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Ir Joko Mogoginta selaku CEO TPS Food Tbk, bahwa konsumen produknya memang lebih jamak memilih beras yang benar-benar berwarna putih, dan justru beras jenis ini mahal harga pasarannya.

Sebenarnya ada apa di balik kandungan kulit ari beras ini? Bekatul atau Rice Bran merupakan lapisan luar dari kulit ari beras putih yang diperoleh dari hasil penggilingan padi. Bekatul memiliki kandungan seperti karbohidrat, protein, mineral, lemak, vitamin B kompleks (B1, B2, B3, B5, B6 dan B15), inositol, fitat, asam ferulat, gama orizanol, fitosterol,tokorienol, asam amino, asam lemak tak jenuh, dan serat.

Beranjak dari pengetahuan ini, maka selepas seminar ini saya mulai mencari-cari Instant Rice Bran dari produk bekatul ini untuk menunjang kesehatan saya. Akhirnya saya menemukan produk ini dari sebuah toko herbal, yaitu bekatul beras merah. Saya meminumnya setiap pagi sebagai pengganti sarapan sebelum berangkat ke kantor. Saya juga mulai konsisten meminumnya saat sahur puasa sunah. Hasilnya? Badan saya terasa lebih fit dari sebelum mengkonsumsinya. Seraya tersenyum simpul, akhirnya saya paham kenapa ternak seperti bebek, kambing, atau sapi sangat menyukai bekatul. Bagi saya, seminar nasional ketahanan pangan ini sangat bermanfaat bagi saya baik secara intelektual maupun ilmu praktis. Lalu, kapan anda mengikuti jejak saya mengkonsumsi bekatul?

Johan Bhimo Sukoco
*) Gambar merupakan dokumentasi pribadi.
**) Pencantuman merk produk tidak bermaksud mengandung unsur iklan.