Ada kalanya seseorang ingin kembali ke
masa lampau, tempat dimana ia mengenang sesuatu dan memeluknya dalam kenangan. Ibu,
adalah kenangan terindah dalam catatan perjalanan kehidupan yang diberikan
Tuhan padaku. Perjalanan hidup ibu yang penuh liku, memberikan banyak
pembelajaran kepada saya tanpa perlu banyak yang harus ia katakan. Ibu
diriwayatkan meninggal dalam gagal ginjal dengan segenap komplikasi semacam
diabetes dan hipertensi. Ia adalah perempuan tangguh yang dilahirkan pada 23
Desember 1960 lalu dan ia pun harus kembali ke haribahan Sang Pencipta pada 30
Maret 2015 lalu.
Sih Handayani, nama ibuku, ia adalah
seorang ahli dzikir yang saya kenal tak pernah lelah dalam memuji nama Tuhannya.
Ia tak pernah meninggalkan dzikir di setiap aktivitas yang dilakukannya,
semacam saat menjelang tidur, istirahat, di dalam kendaraan, atau dalam
perjalanan. Hal yang saya ingat dengan baik ialah saat ia dalam kondisi
setengah sadar di sebuah rumah sakit. Saat itu, dikarenakan kondisi kesadaran beliau
yang tidak terkontrol, maka dokter memutuskan memberikan suntikan obat
penenang. Dalam kondisi setengah sadar ini, beliau masih mengingat kebesaran
Alloh dengan terus menerus melantunkan ayat-ayat suci Al Quran, dimana salah
satu surat yang dilantunkannya yang mampu menggetarkan hati saya ialah Surat Al
‘Ashr. Ibu terus menerus melantunkan Surat Al ‘Ashr. “Demi masa. Sungguh manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman
dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran, dan saling
menasihati untuk kesabaran.” (Q.S. Al ‘Ashr :1-3)
Merawat Ibu sampai akhir hayatnya ialah
kebanggaan tersendiri bagi saya. Setiap pagi saya meracik obat-obatan untuknya,
mempersiapkan makan untuknya yang kau tahu pasien dengan komplikasi penyakit
ginjal, diabetes dan hipertensi tentu tidak sembarangan mengkonsumsi makanan.
Yang saya ingat, untuk pasien diabetes perlu dihindari makanan yang
manis-manis, untuk pasien gagal ginjal perlu mengurangi makanan yang berprotein
(diet protein) dan untuk hipertensi perlu dihindari makanan yang terlampau asin.
Kumpulan leafet menu diet dari ahli gizi selalu menemani pencarianku dalam
menyediakan menu terbaik untuk Ibu. Suatu ketika, saya perlu menyingkirkan
beberapa makanan yang tidak boleh beliau konsumsi dalam satu masakan. Semisal sayur
buncis yang dicampur dengan irisan tahu atau tempe, maka saya akan memisahkan buncis
tersebut dari irisan tahu atau tempe, karena dokter melarang Ibu mengkonsumsi
protein dari tahu atau tempe ini. Atau ketika saya dengan segenap kepercaya-dirian
membawa sebotol minyak goreng sendiri ke penjual capjay. Di lain cerita, pernah
suatu malam, Ibu meminta menu sederhana “bothok mlanding”, dan saya dengan
penuh semangat mengintari malam di sepanjang jalanan untuk menemukan makanan
tersebut. Kebahagiaan akan saya dapatkan saat makanan yang diminta ibu dapat
saya temukan dan beliau memakannya dengan lahap. Kebahagiaan yang sulit
dituliskan dalam ejaan huruf sekalipun.
Mengenang Ibu, adalah menyirami segenap
memori saat beliau memberikan wejangan tentang hidup. Salah satu yang saya
ingat ialah tentang larangan membentak perempuan di depan orang banyak. Ibu
adalah perempuan berhati lembut yang seringkali menangis setiap kali Bapak
membentaknya di depan kerumunan orang banyak. Ia akan pulang ke rumah dengan
air mata penuh luka dan ia akan mengobatinya dengan doa dan kesabaran. Nasihat
ibu tentang larangan membentak perempuan di depan khalayak ramai ini masih
terngiang di telinga saya. Semoga dapat saya jaga amanah ibu ini.
Sepanjang tahun 2014 dan 2015 ialah
tahun kesedihan bagi saya. Ibu berkali-kali masuk rumah sakit, dan dalam
tenggang dua waktu ibu koma, sampai akhirnya meninggal. Semua berawal pada
tahun 2014 lalu, ibu dengan tegar mempersiapkan keperluannya sendiri untuk
opname di rumah sakit. Saya ingat saat itu ialah hari Minggu, dimana saya harus
lembur bekerja ke daerah pedesaan mengantar tamu untuk keperluan survey pekerjaan
kantor. Paginya, ibu masih sehat, seperti biasa ia memasak dan melakukan aktivitas
seperti biasanya. Malam harinya, saya kaget saat Bapak memberi kabar bahwa Ibu
masuk rumah sakit, opname. Ibu yang meminta Bapak untuk mengantar ke rumah
sakit karena beliau merasa badannya tidak enak. Ini adalah untuk pertama
kalinya Ibu harus opname di rumah sakit. Sepulang dari lembur, saya langsung
bergegas menemani Ibu bermalam di rumah sakit. Sepanjang malam itu ibu gelisah
dan kondisi kesehatannya terus menurun. Gula darah yang biasanya tinggi, entah
kenapa pada saat itu menurun drastis. Hingga pagi harinya, kondisi kesehatan
ibu terus menurun dan mengakibatkannya koma, dimana ia harus dilarikan ke rumah
sakit lainnya untuk mendapatkan perawatan intensif. Setelah beberapa hari
dirawat di rumah sakit swasta di Sragen, akhirnya kami memutuskan membawanya ke
rumah sakit di Solo untuk mendapatkan perawatan yang lebih memadai fasilitas
medisnya. Ibu koma kurang lebih tiga minggu. Dokter mengatakan Ibu terkena
stroke ringan.
Pada minggu ketiga, perlahan Ibu mulai
sadar, dan kemudian seiring perjalanan waktu Ibu diperbolehkan untuk rawat
jalan di rumah. Di rumah, Ibu dengan penuh semangat menjaga kesehatan, mulai
berlatih untuk jalan, dan melakukan hal-hal lain untuk menunjang pemulihannya.
Ibu mulai kembali membaca mushaf Al Quran setelah berbulan-bulan ia berhalangan
untuk membacanya dikarenakan terbaring di bangsal rumah sakit. Ibu dengan
semangat memberitahukan hal ini pada saya bahwa ia masih dapat membaca dengan
lancar, meskipun awalnya terbata-bata. Ia pun dengan keinginan yang kuat
memutuskan kembali mengajar di awal tahun ajaran baru. Beliau kembali mengajar
di sekolah, meskipun belum penuh waktu, selama berkisar dua minggu. Kemudian, beliau
akhirnya harus kembali ke pelukan sakitnya itu dan mulai awal tahun 2015 beliau
harus bolak-balik di rawat di rumah sakit, karena kondisi ginjal beliau yang
memburuk. Berkali-kali saya harus akrab dengan mobil ambulance dan kondisi
rumah sakit.
Sejak awal tahun itu kondisi kesehatan Ibu
terus menurun, hingga beliau kembali dalam kondisi koma. Hingga pada hari
Senin, 30 Maret 2015 lalu, pada kisaran pukul 02.30 pagi beliau menghembuskan
nafas terakhir. Sehari sebelumnya, perasaan dalam dada ini mulai gelisah entah
ada semacam pesan apa yang hendak disampaikan Tuhan kepada saya. Bahkan saya
sempat melarang Bapak saya untuk pulang ke rumah agar tetap menemani ibu di
rumah sakit pada malam hari, karena saya hanya sendirian menjaga ibu bersama
seorang Asisten Rumah Tangga. Namun, Bapak menolaknya dan memilih pulang ke
rumah meninggalkan kegundahan saya. Dan pesan itu akhirnya terjawab, pada kisaran
pukul 02.30 ketika saya hendak bangun untuk sholat tahajud dan berniat untuk
bersahur puasa sunah, saya dibangunkan oleh Asisten Rumah Tangga saya dan ia
mengabarkan kondisi ibu sedang kritis. Saya segera menghampiri Ibu yang tengah
dalam kondisi buruk dengan penanganan dari dokter dan perawat yang beberapa
kali melakukan tindakan medis. Dengan penuh perasaan yang berkecamuk, saya terus
melantunkan dzikir dan berusaha membimbing beliau mengucapkan kalimat syahadat.
Pada akhirnya, ibu menghembuskan nafas terakhir dan seketika itu dunia ini
seakan-akan gelap bagi saya. Saya berlari menelpon keluarga dekat, segera
sholat dan membacakan Surat Al Mukminun yang pernah saya janjikan dalam hati
akan saya bacakan pada ibu sebagai hadiah kemukminan beliau selama hidupnya.
Selang satu minggu kepergian ibu, saya
beserta Bapak mengunjungi kantor Ibu untuk bersilahturohmi dengan Kepala
Sekolah dan segenap rekan-rekan kantor Ibu. Kami mewakili almarhumah
menyampaikan permohonan maaf apabila selama hidupnya beliau memiliki khilaf. Selain
itu, kami bermaksud menyelesaikan beberapa hal duniawi yang perlu diselesaikan
oleh keluarga almarhumah. Tanpa disangka, Ibu Kepala Sekolah memberikan sekantong
plastik berisikan baju kepada saya. Baju itu tidak lain ialah baju yang pernah
saya berikan kepada almarhumah, dimana ternyata ibu memasukkannya ke penjahit
untuk dikecilkan sesuai permintaan Ibu. Baju itu saya terima kembali dengan
gemetaran. Seolah ini adalah sebuah pesan untuk saya, bahwa mulai saat itu ibu
tidak perlu dihadiahi dengan beraneka macam baju, melainkan ia akan lebih membutuhkan
hadiah berupa doa anak sholeh yang akan menjadi pelapang kuburnya.
Demikian sepenggal cerita tentang ibuku,
dan sungguh ingin rasanya saya kembali pulang ke rahim ibu. Pulang ke sebuah
tempat yang nyaman menemani Ibu tanpa harus ada sepenggal perpisahan. Dan saya yakin,
Tuhan akan menyediakan waktu itu di Surga-Nya kelak, di sebuah tempat yang kekal
bagi orang-orang mukmin. Insya Alloh. Hal yang bisa saya lakukan sepeninggal
Ibu ialah berlaku selayaknya anak sholeh yang tiada hentinya mendoakan
almarhumah ibu, dan menyambung tali silahturohmi dengan kerabat Ibu. Pengajian
Ibu-ibu di kampung yang pernah ia besarkan dan pimpin selama hidupnya pun
sampai sekarang dengan penuh ikhtiar tetap saya jalankan sebagai hadiah kubur
bagi beliau. Dengan begitu, kepulangan saya di akhirat nanti akan disambut Ibu
dengan pelukan dan senyum kehangatan. Selamat jalan Ibu, sampai bertemu dalam
kepulangan anakmu ini ke Surga-Nya kelak.
“Wahai jiwa yang
tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Maka
masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. Al Fajr :
27-30).
Johan Bhimo Sukoco
*) Tulisan ini bersifat personal. Didedikasikan
untuk merayakan 22 Desember sebagai Hari Ibu, dan mengenang hari lahir Ibu saya
pada 23 Desember.
**) Foto merupakan dokumentasi pribadi.

