Tidak seperti niatan kebanyakan orang
saat mengunjungi Bayanan, aku justru kesana untuk memikirkanmu. Bukan rematik
atau gatal-gatal yang hendak kusembuhkan, toh aku justru ingin penyakit itu terus
bersemayam dalam tubuhku. Kau tahu kenapa? karena, dengan begitu akan selalu
ada alasan bagiku menenggelamkan diri di kolam penghangatan ini.
Mojogedang, Batujamus, Kerjo, Sambirejo,
hingga Sambi akan kulalui sekedar menjumpai bayanganmu. Aku tahu, diriku tak
akan sanggup memenuhi semua inginmu yang tak terbataskan itu. Namun, pemilu
tahun lalu telah membawa namaku memimpinmu. Ini tak ubahnya konsekuensi logis.
Di tempat ini, aku memikirkan tanyamu
semalam, “Kita punya Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan, Bapak,
kenapa saya masih miskin?”. Atau kalimat lain yang kau lontarkan,”Bapak yakin
pelayanan satu pintu mampu mengurangi oknum pelaku mal administrasi?” Belum
sempat kujawab, muncul kalimat lain, “Apa jika bapak menyebar kartu Sintawati
alias Siswa Pintar Warga Sukowati itu anak-anak kita bisa sekolah gratis?”
Akulah Bupati yang terpilih kemarin dan
pertanyaan-pertanyaan ini ialah makanan sehari-hariku. Kini, di pemandian air
panas ini akan kuhangatkan tubuhku, agar esok mampu menjawab ribuan tanya darimu.
Seraya berharap, relaksasiku hari ini mampu melepas jenuhku pada tanyamu,
menurunkan kadar kolesterol dalam darahku, meningkatkan vitalitas, dan
memulihkan kebugaran tubuhku, agar mampu menjawab semua kalimat tanya –yang tak
habis-habisnya kau jejalkan dari mulut-mulut nyinyirmu.
Dan saat kuentaskan tubuhku dari kolam
ini, kuyakin tubuhku telah menghangat. Bahkan, aku siap menghangatkan tubuhmu,
duhai sayangku.
Johan Bhimo Sukoco
*) Sajak ini termuat dalam Buku Antologi
Puisi 127 Penyair Dari Sragen Memandang Indonesia, yang diterbitkan Komite
Sastra Dewan Kesenian Daerah Sragen (DKDS) & Forum Sastra Surakarta, 2012.
**) Gambar diambil darisini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar