Jumat, 16 Desember 2016

Di Bayanan Aku Memikirkanmu




Tidak seperti niatan kebanyakan orang saat mengunjungi Bayanan, aku justru kesana untuk memikirkanmu. Bukan rematik atau gatal-gatal yang hendak kusembuhkan, toh aku justru ingin penyakit itu terus bersemayam dalam tubuhku. Kau tahu kenapa? karena, dengan begitu akan selalu ada alasan bagiku menenggelamkan diri di kolam penghangatan ini.

Mojogedang, Batujamus, Kerjo, Sambirejo, hingga Sambi akan kulalui sekedar menjumpai bayanganmu. Aku tahu, diriku tak akan sanggup memenuhi semua inginmu yang tak terbataskan itu. Namun, pemilu tahun lalu telah membawa namaku memimpinmu. Ini tak ubahnya konsekuensi logis.

Di tempat ini, aku memikirkan tanyamu semalam, “Kita punya Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan, Bapak, kenapa saya masih miskin?”. Atau kalimat lain yang kau lontarkan,”Bapak yakin pelayanan satu pintu mampu mengurangi oknum pelaku mal administrasi?” Belum sempat kujawab, muncul kalimat lain, “Apa jika bapak menyebar kartu Sintawati alias Siswa Pintar Warga Sukowati itu anak-anak kita bisa sekolah gratis?”

Akulah Bupati yang terpilih kemarin dan pertanyaan-pertanyaan ini ialah makanan sehari-hariku. Kini, di pemandian air panas ini akan kuhangatkan tubuhku, agar esok mampu menjawab ribuan tanya darimu. Seraya berharap, relaksasiku hari ini mampu melepas jenuhku pada tanyamu, menurunkan kadar kolesterol dalam darahku, meningkatkan vitalitas, dan memulihkan kebugaran tubuhku, agar mampu menjawab semua kalimat tanya –yang tak habis-habisnya kau jejalkan dari mulut-mulut nyinyirmu.

Dan saat kuentaskan tubuhku dari kolam ini, kuyakin tubuhku telah menghangat. Bahkan, aku siap menghangatkan tubuhmu, duhai sayangku.

Johan Bhimo Sukoco
*) Sajak ini termuat dalam Buku Antologi Puisi 127 Penyair Dari Sragen Memandang Indonesia, yang diterbitkan Komite Sastra Dewan Kesenian Daerah Sragen (DKDS) & Forum Sastra Surakarta, 2012.
**) Gambar diambil darisini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar