“Aku
meyakini setiap orang terlahir di bumi untuk memenuhi panggilan hidupnya yang
unik dan spesial. Tidak ada seorang pun dilahirkan tanpa misi hidup. Tanpanya,
tujuan penciptaan kita jadi hampa dan tidak bernilai.” (Prof. Dr. Ir. Nurhajati
Hakim)
Demikian
yang dikatakan Guru Besar Ilmu Tanah tersebut dalam autobiografi bukunya yang berjudul
Keluar dari Sela Bebatuan, Lepas dari Rantai Kemiskinan (2015). Kalimat
tersebut begitu mengena di hati saya, sampai-sampai saya menggunakannya sebagai
motto dalam lembaran thesis pascasarjana saya. Apa panggilan hidup saya? Menjadi
pengajar, dan terus menularkan ilmu yang diperoleh kepada orang lain. Sejak
kecil, saya sudah bermimpi menjadi seorang pengajar, atau dosen lebih tepatnya.
Dulu, semasa kanak-kanak, saya sering bermain peran menjadi seorang pengajar
dimana memiliki murid-murid dengan beragam karakter. Saya berpura-pura mengajar
di depan kelas dan menilai hasil ujian murid-murid dalam khayalan saya itu.
Mimpi itu terpupuk, menahun, dan bertumbuh kembang hingga saya menyelesaikan
jenjang pendidikan tinggi.
Ibu
saya seorang guru. Beberapa saudara ibu, dan kerabat ibu lainnya juga banyak
yang berprofesi sebagai guru. Berada di lingkungan pendidikan, membuat saya semakin
berkeinginan menjadi seorang pengajar. Semenjak mengenyam pendidikan di
perguruan tinggi, saya dipertemukan dengan profesi mengajar lain selain guru,
yaitu dosen. Profesi dosen yang mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi,
meliputi pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, ini, menjadi
semakin seksi di mata saya. Ibu saya adalah orang yang sangat mendukung dengan
cita-cita saya menjadi dosen. Beliau, semasa hidupnya selalu mendukung dan
menyertai pendidikan tinggi saya mulai dari Diploma III, Sarjana, hingga
Magister. Selama 3 (tiga) kali saya mengikuti prosesi wisuda, beliau
menghadirinya pada jenjang Diploma III dan Sarjana. Saya kehilangan sosok
beliau saat prosesi wisuda Magister, mengingat beliau terlebih dahulu pulang ke
rahmatulloh. Saya bersyukur, dapat memberikan prestasi belajar yang baik,
dimana saat Diploma III saya lulus dengan predikat cumlaude, sekaligus lulusan terbaik di kelas saya, dan pada saat
Strata I, saya meraih IPK tertinggi di tingkat fakultas saat prosesi wisuda
Sarjana. Saya persembahkan ini semua untuk ibu, seperti yang saya tulis dalam Tugas
Akhir, Skripsi, dan Tesis saya.
Selama
perjalanan karir, saya memiliki pengalaman kerja dalam ilmu praktis yang
beragam. Saya pernah bekerja di BUMD bidang keuangan, menjadi asisten dosen di
almamater, kemudian bekerja di sebuah lembaga pendidikan berbasis pesantren dan
sains, hingga BUMD bidang pelayanan dan penyediaan air minum, yaitu PDAM.
Berbagai pengalaman kerja ini menambah keilmuan praktis saya, menggenapi teoritis
yang saya dapatkan dari bangku perkuliahan. Selama menjadi professional tersebut,
saya tetap fokus pada tujuan awal saya : menjadi dosen. Saya tetap berada di
jalur yang saya inginkan, dengan tetap bersemangat melanjutkan jenjang
pendidikan yang lebih tinggi. Saya tetap melakukan lompatan-lompatan pendidikan
dari Diploma III, kemudian Strata I, hingga Strata II. Saat ini pun saya masih
menyiapkan dan menabung lompatan akhir saya di Strata III nantinya, mohon doanya
agar lekas terlaksana.
Pada
kisaran tahun ajaran 2012/2013 lalu, setelah memperoleh gelar sarjana, saya
mendapat amanah menjadi asisten dosen pada Program Studi Diploma III Manajemen
Administrasi, FISIP, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Menjadi asisten dosen
di almamater saya sungguh menyenangkan. Ini semakin memantapkan langkah saya
menjadi seorang dosen. Pada tahun berikutnya, saya fokus pada perkuliahan saya
di jenjang pascasarjana. Pada saat itu, lagi-lagi kesempatan untuk bekerja
menjadi seorang praktisi professional menghampiri saya hingga membuat saya harus
membelokkan arah sejenak ke BUMD dalam bidang pelayanan dan penyediaan air
minum tersebut. Bagi saya, ini seperti halnya seorang pelari (atau pelompat
jauh?), dimana ia terkadang membutuhkan langkah mundur ke belakang sejenak untuk
mengambil ancang-ancang dan tumpuan yang lebih kuat, untuk kemudian ia akan berlari
sekencang-kencangnya dan mencapai goal
yang direncanakan sejak awal. Bekerja di kantor tersebut, saya belajar banyak
tentang pelayanan air minum dan kinerja BUMD. Hal ini saya rasa sangat
bemanfaat saat saya mengajar sebagai dosen nantinya, dimana ilmu tentang
pelayanan publik, manajemen publik, dan segala macam didalamnya dapat menjadi
bekal bagi saya selama mengajar.
Pada
intinya adalah fokus, berani keluar dari zona nyaman. Saya bukannya tidak
mensyukuri atas kesempatan bekerja di sebuah institusi publik yang bergengsi,
dengan posisi terakhir karyawan tetap dan gaji berkecukupan. Namun, seperti
kata Jim Collins (2001), good is the
enemy of great. Saya harus tetap fokus pada tujuan awal saya, yaitu menjadi
dosen. Dan, yang perlu diluruskan adalah niatannya. Bukan bekerja untuk
kematangan financial belaka, melainkan untuk membagi ilmu agar bermanfaat di
dunia maupun akhirat. Soal hitung-hitungan materi duniawi, yakinlah,
perhitungan manusia tidak akan sama dengan perhitungan Tuhan. Dalam hal ini,
menjadi dosen tidak ubahnya melakukan perhitungan serupa sedekah ilmu (atau
agen MLM ilmu?), dimana ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah yang
tidak akan ada putusnya saat kita meninggal nanti.
Fokus.
Selama saya bekerja sebagai praktisi professional, saya masih fokus pada tujuan
hidup saya : menjadi dosen. Hal ini terlihat dari semangat saya dalam melakukan
lompatan-lompatan pada jenjang pendidikan tinggi ataupun mengikuti berbagai
seminar berbasis penelitian. Pada tahun 2016 lalu, misalnya, saya aktif
mengikuti beberapa program “Call For
Papers” yang diadakan dalam sebuah seminar nasional atau seminar
internasional. Dari total 6 (enam) publikasi ilmiah ini, 4 (empat) penelitian
saya lakukan sendiri sebagai penulis pertama tunggal, dan 2 (dua) penelitian
lainnya saya kerjakan bersama kedua rekan saya yang tergabung dalam sebuah
group riset. Berbagai penelitian dan seminar ini saya ikuti di sela-sela kesibukan
saya sebagai praktisi professional. Kunci penghilang lelahnya cuma satu, yaitu
fokus dalam berikhtiar dan berdoa. Beberapa waktu kemudian, saat saya menjadi
dosen, saya sadar bahwa fokus ini merupakan kata kuncinya.
Pada
tahun 2017 ini, saya berkesempatan mewujudkan mimpi saya menjadi seorang dosen.
Mulai saat itu, saya bertransformasi dari seorang praktisi menjadi seorang
akademisi. Setelah melalui proses seleksi yang panjang mulai dari wawancara,
bahasa inggis hingga microteaching dari
pihak fakultas, kemudian ke tingkat universitas, akhirnya nama saya menjadi
salah satu kandidat yang diberi amanah menjadi dosen di kampus tersebut.
Universitas Slamet Riyadi Surakarta, atau dikenal dengan singkatan Unisri. Kampus
dengan peringkat 2 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Se-Soloraya, peringkat 7 PTS
Se-Jawa Tengah, dan Peringkat 101 PTS Se-Indonesia. Kampus dengan akreditasi
institusi B ini, juga masuk dalam daftar peringkat dua terbaik PTS Se-Soloraya
versi Webomatrics Tahun 2014. Universitas Slamet Riyadi merupakan perguruan
tinggi yang didirikan oleh Yayasan Perguruan Tinggi Slamet Riyadi, untuk
mengenang kepahlawanan pejuang muda dari Kota Surakarta, yaitu Brigjen
(Anumerta) Slamet Riyadi. Universitas ini didirikan pada tanggal 21 Juni 1980
atas dasar akta pendirian nomor 13 tahun 1980.
Di
kampus ini, saya menjadi dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Boleh jadi, saya merupakan dosen termuda
kedua di fakultas tersebut. Saya berkembang bersama dua dosen muda baru
seangkatan saya lainnya. Haryo Kusumo Aji, S.I.Kom, M.I.Kom yang merupakan
dosen Ilmu Komunikasi, lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kemudian, Wulan
Kinasih, S.Pd, M.AP, yang juga merupakan dosen Ilmu Administrasi Negara, lulusan
Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang. Kami bertiga, sebagai
dosen muda sangat bangga dapat menjadi bagian dari civitas academia di
Universitas Slamet Riyadi. Berbagai kegiatan berkaitan Tri Dharma Perguruan
Tinggi, kami jalankan dengan penuh suka cita. Kami bertiga juga memiliki minat
yang sama di bidang penelitian, sehingga kami membuat group riset, dan
melakukan penelitian secara berkelompok, lalu menuangkannya dalam artikel yang
kemudian ditujukan dalam sebuah jurnal ataupun prosiding seminar nasional atau
internasional. Saya bersyukur, memiliki rekan-rekan kerja yang mempunyai minat
dan passion yang serupa dengan saya, sehingga kami dapat bertukar pikiran dan
berkembang bersama-sama.
Berada
di lingkungan akademisi, membuat semangat belajar saya tak henti-hentinya menggelora.
Saya beruntung dapat diberi kesempatan untuk meraih cita-cita dalam profesi yang
mulia ini. Saat saya mengajar, saya bukan hanya menyampaikan ilmu kepada
mahasiswa-mahasiswi saya, melainkan disitu pula proses pembelajaran saya lalui.
Saya banyak belajar dari mereka dalam pembelajaran di kelas maupun saat diskusi.
Saya kembali mengingat pesan William Glaaser : “We Learn … 10 % of what we read. 20 % of what we hear. 30 % of what we
see. 50 % of what we see and hear. 70 % of what we discuss. 80 % of what we
experience. 95 % of what we teach to others.” Semoga ilmu yang saya
sampaikan ini mampu menjadi amal jariyah yang tidak akan terputus saat saya
meninggal nanti. Akhir kata, semoga artikel ini dapat menuntun pembaca untuk
tidak takut bermimpi, tidak takut bercita-cita, tetap fokus dalam pencapaian
suatu tujuan, dan berani keluar dari zona nyaman.
Sragen,
Johan
Bhimo Sukoco
*)
Gambar merupakan dokumen pribadi.