SRAGEN-Pulang kuliah, Hadyanto Catur W (21) Rabu (15/4) pukul 18.00
meninggal dunia, diduga akibat tebrak lari di jalan raya Sragen-Solo Km
23, tepatnya di desa Duyungan, Sidoharjo. Mahasiswa FKIP UNS Sebelas
Maret jurusan Bahasa Inggris semester IV itu, mengalami luka parah di
bagian kepala dan dada. (Suara Merdeka, Edisi: Jumat,17 April 2009, Hal. G)
Pukul 21:11:06, pesan itu masuk ke ponsel saya. Berita duka.
Mengabarkan berpulangnya sahabat lama saya, Hadyanto Catur Wasono. Saya ingat
betul nama lengkapnya. Bagaimana tidak, saya melewatkan dua tahun duduk di bangku SMA
dengannya dalam kelas yang sama. Berita kematian itu sangat mengejutkan bagi saya. Saya sempat mengirim pesan konfirmasi ulang pada Si Pengirim Pesan,
menanyakan kebenaran berita ini. Dan benar, berita itu fakta.
Beberapa bulan lalu, kami sempat bertemu saat menjenguk seorang teman kami di sebuah rumah sakii di Solo. Tentu
kami kaget mendengar Catur telah kembali ke rahmatullah. Kami sangat kehilangan Catur yang berkarakter ceria dan ekstrovert. Lihat saja mimiknya pada foto. Catur diapit kedua teman perempuan kami sewaktu SMA.
Dengan wajah lucu tentunya. Dia selalu riang, bersemangat, dan
bebas. Catur yang amat bangga akan statusnya sebagai anak seorang
penjual lombok, sampai-sampai ia menggunakan nama udara Chili Morelo di setiap siaran radio yang dibawakannya. Di penghujung kelas III, kami sama-sama berjuang menempuh ujian akhir. Seringkali dia
nebeng motor saya sewaktu berangkat les. Kebetulan saya juga satu
bimbel dengannya.Seringkali juga saat saya jemput ke rumahnya, ia ketiduran padahal sebelumnya sudah berencana akan berangkat les bersama saya.
Catur memiliki pemikiran kritis yang terkadang jauh dari perkiraan rekan sebayanya. Ia sangat low profile, down to earth, supel, juga mudah bergaul. Ada satu pernyataan darinya mengenai saya, yang masih saya ingat sampai sekarang. “Hidup itu enak ada lika-likunya, lebih ada seninya. Nggak kayak kamu yang lurus-lurus saja...,” ucapnya dengan bahasa jawa ketika itu. Dan saya pun meresapi kata-kata itu baik-baik. Benar, hidup itu lebih indah kalau kita menikmati alurnya.
Catur sangat menyukai
tantangan. Dia juga berjiwa pembaharu. Ide kreatif menggrafit tembok
kelas berawal dari otaknya. Jika sebelumnya cat tembok kelas hanya
berwarna putih membosankan, lain halnya dengan kelas kami yang bergrafit
tulisan: Slow But Sure. Meski pada awalnya sempat ada problem dengan pihak sekolah, namun masalah itu dapat kami selesaikan pula. Slow But Sure tetap menyala di tembok kelas kami, juga dalam semangat kami.
Itulah kisah lama Catur. Si Periang yang kini telah pergi. Kini dia
telah berpulang. Namun semangatnya masih membara di jiwa kami. Selamat
jalan, Catur. Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Selamat
Jalan, Sang Periang...
Oleh. Johan Bhimo Sukoco
Ditulis tahun 2009 yang lalu.
NB: gambar merupakan dokumen pribadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar