Selasa, 23 Mei 2017

Menjadi Dosen, Menuruti Panggilan Hati



“Aku meyakini setiap orang terlahir di bumi untuk memenuhi panggilan hidupnya yang unik dan spesial. Tidak ada seorang pun dilahirkan tanpa misi hidup. Tanpanya, tujuan penciptaan kita jadi hampa dan tidak bernilai.” (Prof. Dr. Ir. Nurhajati Hakim)

Demikian yang dikatakan Guru Besar Ilmu Tanah tersebut dalam autobiografi bukunya yang berjudul Keluar dari Sela Bebatuan, Lepas dari Rantai Kemiskinan (2015). Kalimat tersebut begitu mengena di hati saya, sampai-sampai saya menggunakannya sebagai motto dalam lembaran thesis pascasarjana saya. Apa panggilan hidup saya? Menjadi pengajar, dan terus menularkan ilmu yang diperoleh kepada orang lain. Sejak kecil, saya sudah bermimpi menjadi seorang pengajar, atau dosen lebih tepatnya. Dulu, semasa kanak-kanak, saya sering bermain peran menjadi seorang pengajar dimana memiliki murid-murid dengan beragam karakter. Saya berpura-pura mengajar di depan kelas dan menilai hasil ujian murid-murid dalam khayalan saya itu. Mimpi itu terpupuk, menahun, dan bertumbuh kembang hingga saya menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi.

Ibu saya seorang guru. Beberapa saudara ibu, dan kerabat ibu lainnya juga banyak yang berprofesi sebagai guru. Berada di lingkungan pendidikan, membuat saya semakin berkeinginan menjadi seorang pengajar. Semenjak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, saya dipertemukan dengan profesi mengajar lain selain guru, yaitu dosen. Profesi dosen yang mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, meliputi pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, ini, menjadi semakin seksi di mata saya. Ibu saya adalah orang yang sangat mendukung dengan cita-cita saya menjadi dosen. Beliau, semasa hidupnya selalu mendukung dan menyertai pendidikan tinggi saya mulai dari Diploma III, Sarjana, hingga Magister. Selama 3 (tiga) kali saya mengikuti prosesi wisuda, beliau menghadirinya pada jenjang Diploma III dan Sarjana. Saya kehilangan sosok beliau saat prosesi wisuda Magister, mengingat beliau terlebih dahulu pulang ke rahmatulloh. Saya bersyukur, dapat memberikan prestasi belajar yang baik, dimana saat Diploma III saya lulus dengan predikat cumlaude, sekaligus lulusan terbaik di kelas saya, dan pada saat Strata I, saya meraih IPK tertinggi di tingkat fakultas saat prosesi wisuda Sarjana. Saya persembahkan ini semua untuk ibu, seperti yang saya tulis dalam Tugas Akhir, Skripsi, dan Tesis saya.

Selama perjalanan karir, saya memiliki pengalaman kerja dalam ilmu praktis yang beragam. Saya pernah bekerja di BUMD bidang keuangan, menjadi asisten dosen di almamater, kemudian bekerja di sebuah lembaga pendidikan berbasis pesantren dan sains, hingga BUMD bidang pelayanan dan penyediaan air minum, yaitu PDAM. Berbagai pengalaman kerja ini menambah keilmuan praktis saya, menggenapi teoritis yang saya dapatkan dari bangku perkuliahan. Selama menjadi professional tersebut, saya tetap fokus pada tujuan awal saya : menjadi dosen. Saya tetap berada di jalur yang saya inginkan, dengan tetap bersemangat melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Saya tetap melakukan lompatan-lompatan pendidikan dari Diploma III, kemudian Strata I, hingga Strata II. Saat ini pun saya masih menyiapkan dan menabung lompatan akhir saya di Strata III nantinya, mohon doanya agar lekas terlaksana.

Pada kisaran tahun ajaran 2012/2013 lalu, setelah memperoleh gelar sarjana, saya mendapat amanah menjadi asisten dosen pada Program Studi Diploma III Manajemen Administrasi, FISIP, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Menjadi asisten dosen di almamater saya sungguh menyenangkan. Ini semakin memantapkan langkah saya menjadi seorang dosen. Pada tahun berikutnya, saya fokus pada perkuliahan saya di jenjang pascasarjana. Pada saat itu, lagi-lagi kesempatan untuk bekerja menjadi seorang praktisi professional menghampiri saya hingga membuat saya harus membelokkan arah sejenak ke BUMD dalam bidang pelayanan dan penyediaan air minum tersebut. Bagi saya, ini seperti halnya seorang pelari (atau pelompat jauh?), dimana ia terkadang membutuhkan langkah mundur ke belakang sejenak untuk mengambil ancang-ancang dan tumpuan yang lebih kuat, untuk kemudian ia akan berlari sekencang-kencangnya dan mencapai goal yang direncanakan sejak awal. Bekerja di kantor tersebut, saya belajar banyak tentang pelayanan air minum dan kinerja BUMD. Hal ini saya rasa sangat bemanfaat saat saya mengajar sebagai dosen nantinya, dimana ilmu tentang pelayanan publik, manajemen publik, dan segala macam didalamnya dapat menjadi bekal bagi saya selama mengajar.

Pada intinya adalah fokus, berani keluar dari zona nyaman. Saya bukannya tidak mensyukuri atas kesempatan bekerja di sebuah institusi publik yang bergengsi, dengan posisi terakhir karyawan tetap dan gaji berkecukupan. Namun, seperti kata Jim Collins (2001), good is the enemy of great. Saya harus tetap fokus pada tujuan awal saya, yaitu menjadi dosen. Dan, yang perlu diluruskan adalah niatannya. Bukan bekerja untuk kematangan financial belaka, melainkan untuk membagi ilmu agar bermanfaat di dunia maupun akhirat. Soal hitung-hitungan materi duniawi, yakinlah, perhitungan manusia tidak akan sama dengan perhitungan Tuhan. Dalam hal ini, menjadi dosen tidak ubahnya melakukan perhitungan serupa sedekah ilmu (atau agen MLM ilmu?), dimana ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah yang tidak akan ada putusnya saat kita meninggal nanti.

Fokus. Selama saya bekerja sebagai praktisi professional, saya masih fokus pada tujuan hidup saya : menjadi dosen. Hal ini terlihat dari semangat saya dalam melakukan lompatan-lompatan pada jenjang pendidikan tinggi ataupun mengikuti berbagai seminar berbasis penelitian. Pada tahun 2016 lalu, misalnya, saya aktif mengikuti beberapa program “Call For Papers” yang diadakan dalam sebuah seminar nasional atau seminar internasional. Dari total 6 (enam) publikasi ilmiah ini, 4 (empat) penelitian saya lakukan sendiri sebagai penulis pertama tunggal, dan 2 (dua) penelitian lainnya saya kerjakan bersama kedua rekan saya yang tergabung dalam sebuah group riset. Berbagai penelitian dan seminar ini saya ikuti di sela-sela kesibukan saya sebagai praktisi professional. Kunci penghilang lelahnya cuma satu, yaitu fokus dalam berikhtiar dan berdoa. Beberapa waktu kemudian, saat saya menjadi dosen, saya sadar bahwa fokus ini merupakan kata kuncinya.

Pada tahun 2017 ini, saya berkesempatan mewujudkan mimpi saya menjadi seorang dosen. Mulai saat itu, saya bertransformasi dari seorang praktisi menjadi seorang akademisi. Setelah melalui proses seleksi yang panjang mulai dari wawancara, bahasa inggis hingga microteaching dari pihak fakultas, kemudian ke tingkat universitas, akhirnya nama saya menjadi salah satu kandidat yang diberi amanah menjadi dosen di kampus tersebut. Universitas Slamet Riyadi Surakarta, atau dikenal dengan singkatan Unisri. Kampus dengan peringkat 2 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Se-Soloraya, peringkat 7 PTS Se-Jawa Tengah, dan Peringkat 101 PTS Se-Indonesia. Kampus dengan akreditasi institusi B ini, juga masuk dalam daftar peringkat dua terbaik PTS Se-Soloraya versi Webomatrics Tahun 2014. Universitas Slamet Riyadi merupakan perguruan tinggi yang didirikan oleh Yayasan Perguruan Tinggi Slamet Riyadi, untuk mengenang kepahlawanan pejuang muda dari Kota Surakarta, yaitu Brigjen (Anumerta) Slamet Riyadi. Universitas ini didirikan pada tanggal 21 Juni 1980 atas dasar akta pendirian nomor 13 tahun 1980.

Di kampus ini, saya menjadi dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Boleh jadi, saya merupakan dosen termuda kedua di fakultas tersebut. Saya berkembang bersama dua dosen muda baru seangkatan saya lainnya. Haryo Kusumo Aji, S.I.Kom, M.I.Kom yang merupakan dosen Ilmu Komunikasi, lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kemudian, Wulan Kinasih, S.Pd, M.AP, yang juga merupakan dosen Ilmu Administrasi Negara, lulusan Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang. Kami bertiga, sebagai dosen muda sangat bangga dapat menjadi bagian dari civitas academia di Universitas Slamet Riyadi. Berbagai kegiatan berkaitan Tri Dharma Perguruan Tinggi, kami jalankan dengan penuh suka cita. Kami bertiga juga memiliki minat yang sama di bidang penelitian, sehingga kami membuat group riset, dan melakukan penelitian secara berkelompok, lalu menuangkannya dalam artikel yang kemudian ditujukan dalam sebuah jurnal ataupun prosiding seminar nasional atau internasional. Saya bersyukur, memiliki rekan-rekan kerja yang mempunyai minat dan passion yang serupa dengan saya, sehingga kami dapat bertukar pikiran dan berkembang bersama-sama.

Berada di lingkungan akademisi, membuat semangat belajar saya tak henti-hentinya menggelora. Saya beruntung dapat diberi kesempatan untuk meraih cita-cita dalam profesi yang mulia ini. Saat saya mengajar, saya bukan hanya menyampaikan ilmu kepada mahasiswa-mahasiswi saya, melainkan disitu pula proses pembelajaran saya lalui. Saya banyak belajar dari mereka dalam pembelajaran di kelas maupun saat diskusi. Saya kembali mengingat pesan William Glaaser : “We Learn … 10 % of what we read. 20 % of what we hear. 30 % of what we see. 50 % of what we see and hear. 70 % of what we discuss. 80 % of what we experience. 95 % of what we teach to others.” Semoga ilmu yang saya sampaikan ini mampu menjadi amal jariyah yang tidak akan terputus saat saya meninggal nanti. Akhir kata, semoga artikel ini dapat menuntun pembaca untuk tidak takut bermimpi, tidak takut bercita-cita, tetap fokus dalam pencapaian suatu tujuan, dan berani keluar dari zona nyaman.


Sragen,
Johan Bhimo Sukoco
*) Gambar merupakan dokumen pribadi.

1 komentar: